Kasih Info Soal Corona, Pejabat Ngalor Ngidul Ini Yang Bikin Puyeng

Ilustrasi virus corona. (Foto: net)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi virus corona. (Foto: net)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pernyataan antar pejabat soal virus corona sering tidak sinkron. Jadinya, informasi yang diberikan ngalor ngidul. Masyarakat yang tengah waswas virus asal China itu, wajar kalau tambah puyeng.

Contoh tidak sinkronnya pernya­taan antar pejabat soal corona adalah ketika juru bicara pemerintah soal penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengimbau masyarakat tidak perlu panik terhadap ancaman virus dengan nama resmi Covid­19 itu.

Dia bilang, virus dari Wuhan, Chi­na itu sama seperti influenza atau flu. Penyakit dengan gejala bersin­-bersin, batuk hingga demam menggigil itu memang menular, namun masyarakat Indonesia, katanya sudah bertahun­ tahun menghadapinya. “Covid­19 itu juga influenza. Mestinya kita juga menyikapi seperti itu,” ucap Yuri di Covid19 Media Center, Gedung Bina Graha, Jalan Veteran III, Jakarta Pusat, Kamis (6/3).

Karena itu, ia meminta agar masya­rakat diedukasi agar tidak panik. Apa­ lagi, virus corona tidak disertai dengan tanda­tanda klinis yang terlalu berat. Bahkan cenderung hanya gejala flu sedang. “Karena ini adalah penyakit influenza, tidak berbahaya,” katanya. Cara mengantisipasi corona, jelas Yuri juga mirip. Biasanya, masyarakat sudah bjasa menyembuhkan flu dengan mengurangi aktifitas fisik, dan makan makanan bergizi. Begitupun dengan corona.

Berita Terkait : Pasien Positif Virus Corona di RI Kini Jadi 4 Orang

Pernyataan itu bertolak belakang de­ngan WHO. Organisasi kesehatan dunia itu dengan tegas menyatakan bahwa Covid ­19 bukan influenza. “Virus ini bukan SARS, ini bukan MERS, dan ini bukan influenza,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam forum briefing media di Jenewa, Swiss, Selasa (3/3) lalu.

Menurut Tedros, virus ini unik dan punya karakteristik sendiri. Setidak­nya, sebut dia, ada empat perbedaan antara Covid­19 dengan influenza. Pertama, penyebaran Covid­19 tidak seefesien flu. Kedua, corona tidak ditularkan oleh orang yang tidak sakit. Ketiga, corona bisa bikin sakit lebih parah daripada flu. Keempat, corona bisa ditanggulangi. Saat ini, terang dia, dunia tengah melakukannya. Meskipun, hingga saat ini belum ada vaksinnya.

Perbedaan pendapat lainnya antar pajabat adalah soal sertifikat corona. Ma’ruf mengatakan pemerintah akan memberlakukan sertifikasi be­bas virus corona. Sertifikat ini diper­ untukkan kepada setiap warga negara asing (WNA) maupun warga negara Indonesia (WNI) dari luar negeri yang ingin masuk ke Indonesia.

Tujuannya, untuk mencegah penye­baran virus corona dari luar negeri. Langkah ini diambil untuk merespons dua WNI asal Depok, Jawa Barat, yang positif tertular virus corona dari WN Jepang asal Malaysia saat berkunjung ke Indonesia. “Kita akan menerapkan sertifikasi bebas korona, dan kita juga akan meneliti jejak perjalanan kemana saja dia dan dari mana saja,” kata Wapres.

Berita Terkait : Sri Mulyani Bikin Takut Saja

Dua hari setelah Wapres ngomong, Yuri yang juga menjabat sebagai Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) itu mengatakan, sertifikat itu tidak ada manfaatnya. “Menurut kami, tidak perlu,” ujarnya di Kantor Presiden, kemarin. Ia mengakui, belakangan ini ada sejumlah perusahaan dan in­ stitusi yang meminta sertifikat bebas corona, setelah pegawainya melakukan perjalanan dari luar negeri.

“Kami sudah koordinasikan hal seperti itu tidak ada gunanya, surat keterangan bebas virus corona tidak ada manfaatnya,” sambung dia. Alasan dia, penyebaran virus corona ini tidak separah MERS dan SARS. Angka ke­matiannya juga hanya 2­3 persen.

Sebelumnya, pernyataan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto juga bikin pusing masyarakat karena berbeda dengan WHO. Dia bahkan menyebut flu lebih mematikan dari­ pada corona. “Flu batuk ­pilek yang biasa terjadi pada kita itu angka kema­tiannya lebih tinggi daripada yang ini, corona,” katanya di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (2/3).

Pernyataan itu juga bertolak bela­kang dengan WHO. Menurut Tedros, angka kematian dari Covid­19 lebih lebih tinggi dari influenza musiman atau flu. Secara global, kata dia, seki­ tar 3,4 persen kasus Covid­19 yang dilaporkan berakhir dengan kematian.

Berita Terkait : China Dihantam Corona, Industri Ketiban Untung

Terawan juga berseberangan per­nyataannya dengan Wali Kota Depok M Idris, soal dirumahkannya 76 tenaga medis RS Mitra Keluarga yang disebut kontak langsung dengan 2 orang warga Depok yang positif corona. “Dikha­watirkan oleh pihak rumah sakit karena berinteraksi dengan pasien,” ujar Idris, Senin (2/3).

Di hari yang sama, pernyataan Id­ris langsung dibantah Terawan. Me­nurutnya, ke 76 tenaga medis tersebut tidak perlu dirumahkan. Cukup dengan menggunakan masker saja, jika merasa sakit atau terduga sakit. Kemudian cuci tangan dan hidup bersih dan sehat. “Di rumahkan piye, nanti stres badannya, imunitasnya turun, nanti sakit,” sanggah Terawan.

Sebelum simpang siur informasi soal corona sesemraut saat ini, ang­gota Komisi IX DPR Saleh Daulay mengatakan, sudah dari awal me­minta pemerintah untuk memben­tuk Satuan Tugas (Satgas) yang bisa mengkoordinasikan seluruh kemen­ terian dan lembaga terkait penanganan coronavirus. “Biar tak bikin pusing masyarakat, statement yang keluar dari pemerintah harus satu pintu,” kata Saleh kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

Ia juga meminta agar pemerintah untuk mencermati pernyataan WHO. Sehingga publik tidak kehilangan kepercataan terhadap pernyataan dari pemerintah. “Menurut saya sih, itu kan masuk ke ranah keahlian. Karena itu, kita harus memercayai ahli­-ahli itu untuk berbicara. Kalau pemerintah dan jubir belum memahami secara utuh, panggil ahli. Ahli itulah yang akan berpendapat,” tutupnya. [SAR]