Badai Corona Belum Berlalu

Jokowi Tak Tenang

Presiden Jokowi (kiri) dan Wapres KH Maruf Amin. (Foto: Sekretariat Kabinet)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi (kiri) dan Wapres KH Maruf Amin. (Foto: Sekretariat Kabinet)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wabah Virus Corona belum ada tanda'tanda akan berhenti. Sebaliknya, yang terinfeksi virus mematikan asal Wuhan, China, itu justru semakin banyak. Presiden Jokowi memperkirakan, dampak ini akan terasa sampai 2021. Jokowi tak tenang dengan kondisi ini.

Kemarin, Jokowi kembali mengumpulkan para menterinya di Istana Kepresidenan untuk menyusun rencana mengatasi berbagai risiko yang mungkin muncul akibat merebaknya virus dengan nama Covid19. Yang dibicarakan khusus mengenai kebijakan fiskal dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2021.

Di rapat ini,  Jokowi terlihat kalem. Nada bicaranya rendah. Namun, tergambar ada sedikit kekhawatiran atas mewabahnya corona. Dalam beberapa kalimat, Jokowi memberi penekanan.

Bahkan, ia meminta para pembantunya itu untuk menggarisbawahi. Salah satunya ketika meminta para pembantunya menghitung secara detil risiko pelemahan ekonomi global akibat corona. “Saya minta sekali lagi, dikalkulasi secara detail,” ucap Jokowi.

Berita Terkait : Petugasnya Positif Corona, Disneyland Paris Tetap Buka

Jokowi merasa, dampak corona ini akan panjang. Dari situ, pelemahan ekonomi juga bisa berlangsung lama. “Merebaknya virus corona yang terjadi pada awal tahun ini dan kemungkinan dampak ekonomi lanjutan pada 2021,” ucapnya.

Untuk itu, Jokowi merasa penting melakukan mitigasi dengan baik. Agar dampak yang ditimbulkan bisa diredam dan ekonomi kita baik-baik saja. “Langkah-langkah mitigasi yang kita kerjakan tahun 2020 ini harus diperkuat lagi untuk tahun 2021.

”Jokowi juga meminta agar Rancangan Kebijakan FIskal 2021 mampu memperkuat daya tahan ekonomi nasional. Khususnya dalam mengatasi berbagai resiko yang mungkin muncul akibat gejolak ekonomi global. “Ini juga perlu digarisbawahi,” pesannya.

Di depan para anak buahnya, Jokowi mencoba memperlihatkan sikap optimisi. Dia bilang, dengan kerja keras, pertumbuhan akan terjaga. Jokowi mencontohkan perekonomian Indonesia di 2019 yang mampu tumbuh hingga 5,02 persen. Padahal, saat itu, ekonomi global dalam ketidakpastian dan adanya gejolak akibat perang dagang antara AS dan China.

Berita Terkait : Gawat, Total Pasien Positif Virus Corona di Indonesia Kini Jadi 19 Orang

Jokowi meyakini, reformasi struktural yang dijalankan secara konsisten, apalagi setelah Omnibus Law Cipta Kerja dan Omnibus Law Perpajakan terbit, akan menciptakan momentum baru bagi pertumbuhan ekonomi negara.

Jokowi juga menekankan agar perekonomian tumbuh secara berkualitas. Kebijakan fiskal di tahun 2021 diharapkan bisa memberikan stimulus bagi peningkatan daya saing ekonomi nasional, penciptaan nilai tambah, dan pemerataan pembangunan. “Daya tarik in vestasi harus terus ditingkatkan. agar bisa membuka banyak lagi lapangan kerja baru,” pesannya.

Selain itu, ia juga meminta agar industri manufaktur diberikan insentif. Khususnya untuk industri padat karya. Usaha mikro, kecil, dan menengah harus terus diperkuat agar bisa naik kelas dan masuk dalam supply chain nasional maupun global. “Saya minta diberikan perhatian khusus pada program KUR (Kredit Usaha Rakyat), Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), UMI (Ultra Mikro), juga Bank Wakaf Mikro,” ucapnya.

Usai ratas, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengakui dampak corona dalam 2,5 bulan terakhir memberikan banyak perubahan. Khususnya terhadap APBN. Baik untuk tahun 2020 maupun 2021. Ia memperkirakan, defisit APBN 2020 akan terus membengkak. Antara rentang angka 2,2 sampai 2,5 persen dari PDB. Sri Mul juga ikut bicara mengenai anjloknya saham IHSG. Per kemarin saja, sekitar Rp 400 triliun menguap dari bursa saham RI. Sri Mul terlihat tak bisa berbuat banyak. “Ya memang kalau sedang bergejolak, nggak bisa melakukan sesuatu agar tidak terkena. yang bisa kita lakukan adalah mitigasi agar dampaknya seminimal mungkin,” ucapnya.

Berita Terkait : Iran Air Setop Semua Penerbangan ke Eropa

Dari sisi yang terinfeksi, penyebaran virus corona semakin luas. Di Indonesia, per kemarin saja, ada penambahan 13 pasien baru yang positif corona. Dengan begitu, jumlahnya kini menjadi 19.

Jubir Pemerintah untuk penanganan Virus Corona, Ahmad Yurianto, mencoba menyakinkan masyarakat untuk tetap tenang. Dia bilang, infensi virus ini tak seseram yang dibayangkan masyarakat. Kondisi pasien-pasien baru yang positif corona juga masih baik-baik saja.

“Karena kecenderungan pe nyakit ini sekarang secara klinis ti dak seperti yang kita bayangkan di Wuhan,” kata Yuri, di Media Center Covid-19, Kantor Presiden, Jakarta Pusat, kemarin. [SAR]