Pasien Corona Jadi 27 Orang, Jokowi Tak Parnoan

Presiden Jokowi (kanan) saat menyambut Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti, di Istana bogor, Selasa (10/3). (Foto: Jokowi)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi (kanan) saat menyambut Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti, di Istana bogor, Selasa (10/3). (Foto: Jokowi)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Korban virus corona (Covid-19) di Indonesia terus bertambah. Kini jumlahnya menjadi 27 orang. Meski begitu, Presiden Jokowi terlihat tidak parnoan alias ketakutan berlebihan akan tertular. Jokowi masih beraktivitas seperti biasa: memimpin rapat atau menerima tamu. Bahkan, dia masih berani menyalami tamu-tamunya. Baik tamu lokal maupun tamu bule.

Sejumlah negara mulai menerapkan kebijakan membatasi aktivitas presidennya agar tak tertular virus corona. Presiden Filipina, Rodrigo Du terte misalnya, dilarang blusukan dan salaman. Padahal korban virus corona di sana relatif masih sedikit.

Berbeda dengan presiden lain, Jokowi masih terlihat tenang menghadapi wabah virus corona. Belum terlihat pengamanan berlebihan. Hal itu terlihat saat Jokowi menyambut Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti, di Istana bogor.

Saat penyambutan, Jokowi terlihat masih menyalami Raja Willem. Ia juga terlihat masih menyalami para pejabat Belanda yang hadir di sana. Satu persatu pejabat disalami saat dikenalkan oleh Sang Raja.

Berita Terkait : Cegah Corona Meluas, PSR Sarankan Pemerintah Lockdown Bali

Ibu Iriana pun masih membaur dengan puluhan anak-anak yang mengenakan pakaian adat. Upacara penyambutan tamu masih berjalan seperti biasa. Dimulai dengan prosesi mendengarkan lagu kebangsaan kedua negara, upacara jajar pasukan dan penembakan meriam.

Acara kemudian dilanjutkan pengisian buku tamu dan sesi foto bersama di ruang utama Istana Bogor. Setelah itu, Presiden Jokowi mengajak Raja dan Ratu Belanda untuk berbincang bincang di beranda, menanam pohon dan dilanjutkan pertemuan bilateral yang turut diikuti oleh para menteri.

Sementara itu, kemarin, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali mengumumkan delapan kasus baru. Jadi total yang positif corona ber jum lah 27 orang. Juru Bicara Penanganan Covid19, Achmad Yurianto mengatakan, delapan pasien baru itu kasusnya berkaitan pasien ke-1 dan kasus imported case.

Untuk kasus yang berkaitan dengan pasien ke-1, Yurianto menjelaskan, ada dua kasus sebagai sub klaster pasien ke-1 yakni pasien ke-20 yang merupakan perempuan berumur 70 tahun, dan pasien ke-21, seorang perempuan berusia 47 tahun.

Berita Terkait : Dari Istiqlal Ke Soetta, Jokowi 36,8 Derajat

Untuk kasus imported case, Yurianto merinci, pasien ke-22 seorang perempuan, 36 tahun; pasien ke-23, perempuan, 73 tahun; pasien ke-24, laki-laki, 46 tahun; pasien ke-25, perempuan, 53 tahun; dan pasien nomor ke-26, laki-laki, 46 tahun. “Pasien nomor 23 tengah menggunakan ventilator karena masalah comor bid. Sementara pasien 25 dan 26 merupakan warga negara asing,” kata Yurianto.

Pemerintah menemukan satu kasus baru yang tidak berkorelasi dengan pasien ke-1 maupun imported case Nomor kode 27, laki-laki, berusia 33 tahun, seorang WNI. Kondisi stabil. Kami menduga ini local transmision yang sedang kami tracking dari mana sumbernya karena bukan import dan tidak jelas bagian dari klaster yang lain. Sementara belum jelas,” kata Yuri.

Sehari sebelumnya, pemerintah mengumumkan 13 kasus Covid 19 baru. Dari 13 kasus baru, dua kasus berasal dari warga negara asing. Kedua WNA tersebut adalah kasus 10, yakni WNA laki-laki berumur 29 tahun, dan kasus 11, yakni WNA perempuan berumur 54 tahun.

Kedua kasus tersebut dikatakan berkorelasi dengan kasus 1. Saat ini, kata Yuri, pemerintah terus memonitor hasil cek kedua kesehatan para WNA serta hasil labnya bersama para penderita Covid 19 lainnya. Pemerintah pun sudah menghubungi ke kedutaan negara WNA tersebut.

Berita Terkait : Kenapa Pemerintah Belum Umumkan Darurat Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperingatkan bahwa ada ancaman penyebaran virus corona saat ini bisa men jadi pandemi (penyakit yang meluas ke seluruh dunia). Tetapi mereka yakin virus tersebut masih bisa dikendalikan.

Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, kesimpulan itu diambil setelah kasus infeksi virus corona mencapai 100 ribu. Dia mengatakan, ancaman pandemi virus corona menjadi sangat nyata.

“Meski kita menyebutnya pandemi, tetapi kita masih bisa mengendalikan dan membatasi. Ini akan menjadi sejarah di mana ada pandemi yang bisa dikendalikan. Kita tidak dalam posisi me maafkan virus tersebut,” kata Tedros dalam jumpa pers di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, Selasa (10/3). [BCG]