Jubirnya Bersinar, Menkes Meredup

Achmad Yurianto (Foto: Humas Setkab)
Klik untuk perbesar
Achmad Yurianto (Foto: Humas Setkab)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sepekan terakhir, nama Achmad Yurianto jadi bahan perbincangan warganet. Pamor jubir pemerintah untuk wabah virus corona itu memang tengah bersinar. Ia dipuji lantaran bisa menyampaikan informasi terkait corona dengan baik. Di saat yang sama, pamor Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto justru meredup.

Keputusan Presiden Jokowi menunjuk Achmad Yurianto sebagai jubir Wabah virus corona sepertinya tak keliru. Yuri-biasa dia disapa-dinilai bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes itu bisa memberikan informasi wabah corona dalam bahasa yang sederhana. Rapih dan tertata.

Jokowi menunjuk Yuri sebagai jubir, Selasa (3/3) lalu. Menurut Jokowi, penunjukan tersebut agar tidak terjadi simpang siur di tengah masyarakat mengenai pandemi ini. Setelah itu, hampir tiap hari Yuri menyampaikan perkembangan wabah ini. Kemarin sore misalnya, Yuri kembali muncul mengabarkan perkembangan terkini soal jumlah korban wabah corona.

Sebelum diangkat jadi jubir, tak banyak yang tahu kiprah pria kelahiran Malang tahun 1962 ini. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Yuri memulai kariernya sebagai dokter militer tepatnya sebagai Perwira Utama Kesehatan Daerah Militer V Brawijaya pada 1987.

Berita Terkait : BKS Positif Corona, Menkes Langsung Gercep Telusuri Kontak

Malang melintang sebagai dokter militer hingga pada 2015 ia diminta Menteri Kesehatan saat itu Nila Moeloek untuk menempati posisi Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Pada 2019, ia pun dipercaya menjadi Sesditjen P2P.

Sebelum ada jubir, komunikasi soal wabah virus corona disampaikan oleh Menkes Terawan Agus Putranto. Sayangnya, gaya komunikasi Terawan dinilai buruk sehingga mendapat banyak kritik dari masyarakat. Ia dianggap terlalu mengentengkan masalah.

Salah satu kritikan itu misalnya datang dari Waketum Gerindra, Fadli Zon. Ia menilai pernyataan Terawan banyak yang kontraproduktif. Menunjukkan komunikasi publiknya sangat buruk. "Misalnya mengatakan masker untuk orang sakit, difteria saja dihadapi apa lagi corona. Jadi menganggap enteng, ada kesan angkuh dan sombong menghadapi ini,” kata Fadli. Di kesempatan berbeda Fadli meminta agar Terawan diistirahatkan saja.

Setelah Jokowi menunjuk Yuri, perlahan tapi pasti Terawan tak pernah lagi berbicara mengenai corona. Otomatis Terawan jarang muncul lagi muncul di layar kaca seperti sebelumnya.

Berita Terkait : Update Corona: 69 Kasus Positif, 4 Meninggal Dunia

Gaya komunikasi Terawan memang kerap menuai kontroversi. Teranyar adalah omongan Terawan saat menyambut 188 ABK World Dream yang sudah menjalani 14 hari masa karantina di Pulau Sebaru. Dalam kesempatan itu, Terawan menetapkan para ABK sebagai duta imunitas corona. Sejarawan JJ Rizal di akun miliknya, @JJRizal, sampai geleng-geleng kepala.

"Mengingatkan kepada karya antropolog, Clifford Geertz: Negara Teater. Di negara teater penguasa mengutamakan seremoni, bahkan ketika negara (kerajaan) itu akan hancur akibat marabahaya," ujarnya.

Akun @novieLaempah sepakat. Kata dia komunikasi itu yang penting. Makanya sekarang ditunjuk Achmad Yurianto jubir terkait virus corona. "Dan memang bagus paparannya. Masyarakat bisa paham," cuitnya. "Dokter ini jauh lebih bagus dan menguasai materi," timpal @sarimusdar09.

Senada diungkapkan @nsmrld. Dia bilang, tak heran dengan gaya komunikasi menkes. Karena dari hasil pengalamannya sembilan bulan bolak balik ke dokter banyak ditemukan hal serupa "Selalu aja ada dokter yg ga punya kemampuan komunikasi bagus padahal pinter dan cepet mendiagnosa," ungkapnya.

Berita Terkait : Alhamdulilah, Tiga Pasien Corona Sembuh

Sementara menurut @Rizaridho wajar kalau Menkes gagap berkomunikasi. "Bisa maklum kenapa pak menkes spt gagap. Baru dilantik, masih sibuk BPJS, blm dapat materi briefing lengkap soal gimana komunikasi jaman wabah," pungkasnya. [BCG]