KM Lambelu Sandar di Pelabuhan Maumere, Protokol Kesehatan Covid-19 Diterapkan

Kapal KM Lambelu milik PT Pelni yang sandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere, NTT, Selasa malam (7/4). (Foto: Dok Kemenhub)
Klik untuk perbesar
Kapal KM Lambelu milik PT Pelni yang sandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere, NTT, Selasa malam (7/4). (Foto: Dok Kemenhub)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kapal KM Lambelu milik PT Pelni yang berlayar dari Tarakan, Kalimantan Timur, menuju Kabupaten Sikka, NTT, malam ini (Selasa, 7/4), pukul 21.37 WIT sandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere, NTT. Sebelumnya, KM Lambelu dilarang sandar karena Pemkab Sikka menduga ada 3 ABK di dalamnya terjangkit Covid-19.

Demikian disampaikan Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Wisnu Handoko, dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa (7/4). "Kapal dapat sandar, tetapi penumpang belum boleh turun sebelum tim kesehatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan pemeriksaan dan memastikan para penumpang tidak terpapar Covid-19 sesuai protokol kesehatan yang diterbitkan Pemerintah," jelasnya.

Berita Terkait : Lagi, ASN Kementan Serahkan Bantuan Alat Kesehatan untuk Atasi Covid-19

Wisnu menyayangkan adanya penumpang kapal KM Lambelu yang panik sehingga melompat ke laut setelah mendengar kapal belum bisa sandar. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. "Hal ini sangat membahayakan. Kami mohon kerja sama para penumpang kapal untuk mengikuti instruksi dari awak kapal dan juga protokol kesehatan yang diterapkan di atas kapal sebelum turun dari kapal. Jangan melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri," tegasnya.

Setelah kapal sandar, Pemkab Sikka menyiapkan gedung Sikka Convention Center (SCC) di Kota Maumere sebagai tempat karantina mandiri bagi 233 penumpang kapal. "Fasilitas di gedung SCC sudah disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dengan dibuatkan sekat-sekat sehingga setiap keluarga bisa ditempatkan di sekat tersebut. Ruangan itu sudah dibuatkan semaksimal mungkin sehingga bisa menampung semua penumpang kapal Pelni KM Lambelu yang akan dikarantina di gedung tersebut," jelas Wisnu.

Berita Terkait : KAI Cegah Penyebaran Covid-19 di Angkutan Barang

Guna menghindari terjadinya kejadian serupa di kemudian hari, Wisnu meminta Pemda menginformasikan pembatasan sosial dengan mengikuti mekanisme penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagaimana diatur dalam Permenkes Nomor 9/2020. Wisnu juga meminta PT Pelni menyosialisasikan pembatasan yang dilakukan Pemda kepada masyarakat atau calon penumpang kapal yang akan menuju ke daerah tersebut.

Selain itu, dalam SE Dirjen Perhubungan Laut Nomor 13/2020 disebutkan bahwa diharuskan memberikan akses bagi penumpang yang sudah berada di atas kapal pada saat dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Daerah terkait pembatasan. "Stakeholder di pelabuhan tujuan bersama Gugus Tugas Covid-19 daerah melaksanakan protokol pemeriksaan bagi penumpang yang turun," ujar Wisnu.

Berita Terkait : MPR: Jangan Tolak Tenaga Medis Covid-19 Saat Kembali ke Lingkungan

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Maumere, Yoseph Bere, menjelaskan, pelarangan bersandar di pelabuhan itu disampaikan Pemkab Sikka melalui surat kepada PT Pelni yang ditandatangani Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo. Dalam surat tertanggal 7 April 2020 tersebut, Pemkab Sikka meminta kapal KM Lambelu tak melakukan aktivitas sandar di pelabuhan untuk menurunkan penumpang demi menjaga kemungkinan penyebaran Covid-19 kepada warga lain di daerah itu. "Dasar pertimbangan yang diambil karena daerah itu masih sangat memiliki keterbatasan peralatan medis, sarana dan sumber daya dokter," jelas Yoseph.

Terkait kebutuhan makanan dan minum dalam karantina, Pemkab Sikka akan menyediakan setiap hari. Sejumlah tenaga medis sudah diberikan pengarahan untuk bertugas di tempat karantina mandiri, termasuk petugas kesehatan yang menangani para penumpang KM Lambelu. [USU]