Menangis Tiap Malam Pikirin Ekonomi

Bos BI Tamsilkan Wabah Corona Seperti Banjir di Zaman Nabi Nuh

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Klik untuk perbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pandemi virus corona alias Covid-19 membuat ekonomi kita morat marit. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, sampai menangis tiap malam, memikirkan dampak corona ini. Dia mentamsilkan wabah corona bak banjir bandang di zaman Nabi Nuh.

Air mata Perry tumpah saat memberikan penjelasan soal penanganan wabah corona dalam rapat kerja virtual bersama Komisi XI DPR, kemarin. Suaranya meninggi dan nada bicaranya menjadi lebih cepat usai sejumlah anggota DPR menanyakan kondisi perekonomian nasional serta kemungkinan kegagalan recovery ekonomi akibat corona.

Perry mengaku sedih melihat keadaan ekonomi kacau akibat wabah ini. “Mohon maaf, ini saya agak emosional. Saya betul-betul nangis lihat kondisi sekarang,” tutur Perry, sambil terisak.

Raut wajahnya muram. Matanya memerah. Dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 sudah sangat dirasakan di banyak negara termasuk di Indonesia.

Di semua sektor. Kinerja BUMN terpengaruh wabah Covid-19 yang berujung pada profit dan dividen. Utang luar negeri bertambah karena pelemahan rupiah atas dolar AS. Defisit naik tinggi dan jaminan sosial menjadi kewajiban yang harus terealisasi.

Berita Terkait : Pertamina Lubricants Jaga Kesehatan Karyawan

Sektor industri dan perusahaan juga kena dampak. Produksi dan penjualan menurun, pendapatan berkurang, dan beberapa industri sudah melakukan PHK.

Ini terjadi juga di sektor UMKM. Masyarakat, baik yang kerja tetap maupun kerja harian, ikut terkena dampak. Penghasilan turun dan sekarang berharap pada bantuan pemerintah untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

“Bagaimana nasib yang tidak bekerja. Mereka akan makan apa? Saya menangis memikirkan ini,” lanjut Perry. Perry mengibaratkan wabah Covid-19 sebagai banjir besar di zaman Nabi Nuh. Saat ini, BI dan lembaga terkait berupaya membangun bahtera atau kapal yang bisa menyelamatkan rakyat agar tidak tenggelam. Berbagai skenario dan kemungkinan, tengah dihitung.

“Kami sebagai umat beragama, saya dari kecil sering membaca kitab-kitab, Al-Qur’an. Seperti kisah Nabi Nuh yang menghitung risiko, kami juga ukur risiko, misalnya bagaimana jika banjir sampai gedung atau gunung. Kami diskusikan skenarionya seperti apa,” beber Perry.

Sejak akhir Maret, tambah Perry, BI bersama Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), telah mengadakan rapat secara maraton untuk melakukan assess ment bagaimana penanganan wabah ini. Dari pertemuan itu, sejumlah skenario disiapkan. Berbagai kebijakan dirumuskan pemerintah agar kekhawatiran yang ada tak terealisasi.

Berita Terkait : Semangat Mans Entertainment Bikin Lagu Di Tengah Wabah Corona

BI sudah menurunkan giro wajib minimum perbankan. Kementerian Keuangan mengucurkan dana bantuan sosial. Sementara OJK, memberikan restrukturisasi kredit.

Kini, BI masih mendiskusikan perlu tidaknya subsidi bunga dan tambahan likuiditas di perbankan jika penyebaran virus semakin luas. Dia meminta dukungan DPR. “Mohon dukungan, kami ingin bangun kapal kuat untuk menghadapi virus ini,” pintanya.

Perry menjanjikan, BI bersama pemerintah akan sebisa mungkin menjaga kapal tersebut tidak goyah. Dia pun meminta waktu.

“Beri kami waktu agar kapal kuat. Tiap hari saya dan kawan-kawan BI menangis dan berdoa terus karena ini isu kompleks. Kami betul-betul ikhtiar maksimal dan butuh dukungan. Kami berkomitmen, detailnya sedang kami rumuskan,” tandas Perry.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi XI DPR, Dolfie OFP mengatakan, yang Dewan butuhkan tidak hanya skenario sedang sampai berat. Lebih dari itu, Dolfie meminta BI dan pemerintah menerbitkan biaya pemulihan ekonomi atas masing-masing skenario tersebut. “Itu yang kami belum lihat angka dan gambarannya,” kata politisi PDIP ini.

Berita Terkait : Pagi Dele, Sore Tempe

Sementara, anggota komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra, Ramson Siagian meminta rekan-rekannya bisa lebih bersabar. Hal ini perlu dilakukan agar BI bisa bekerja dan melaporkan kembali hasilnya dua pekan lagi. “Kita dukung saja, jangan banyak tanya, tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, krisis yang diakibatkan corona jauh lebih ganas dibanding krisis 1997-1998 dan 2008-2009. Menurutnya, sumber utama krisis global saat ini belum bisa diatasi, karena masih dibutuhkan banyak pengujian. Bahkan, di China, kembali bermunculan kasus baru di saat negeri itu hampir berhasil mengendalikan penambahan kasus sepenuhnya.

Selasa kemarin, Pemerintah menerbit kan surat utang global alias global bond senilai Rp 4,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 69 triliun. Ada tiga seri global bond yang dirilis. Yaitu RI030, RI1050, dan RI0470.

“Ini merupakan penerbitan bond terbesar dalam sejarah penerbitan bond denominasi dolar AS oleh pemerintah Indonesia,” ujar Sri melalui video conference, Selasa (7/4).

Utang baru ini dimaksudkan untuk menjaga pembiayaan sekaligus menambah cadangan devisa bagi BI. Sri mengatakan, penerbitan global bond dengan tenor panjang juga menyesuaikan dengan kondisi pasar. “Dengan demikian, kita bisa mendapatkan yield cukup baik,” ujar Sri. [OKT]