Para Dokter Kirim Surat ke Istana

Yang Mulia Pak Presiden Dengarkan Suara Dokter

Para perawat yang ada di garda terdepan merawat pasien corona mencurahkan suara kekecewaannya karena ada oknum yang menolak pemakaman teman-temannya sesama perawat yang positif corona di Ungaran, Jawa Tengah. Foto ini viral di Medsos, kemarin. Salah satunya dipasang akun twitter BNPN_Indonesia. (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Para perawat yang ada di garda terdepan merawat pasien corona mencurahkan suara kekecewaannya karena ada oknum yang menolak pemakaman teman-temannya sesama perawat yang positif corona di Ungaran, Jawa Tengah. Foto ini viral di Medsos, kemarin. Salah satunya dipasang akun twitter BNPN_Indonesia. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Para dokter melayangkan surat terbuka untuk Presiden Jokowi. Mereka mengeluhkan penanganan wabah corona dan minimnya alat pelindung diri (APD). Sambil memanggil Yang Mulia, mereka minta suaranya didengar.

Para dokter yang mengirim surat terbuka ini tergabung dalam Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter umum indonesia (PDUI). Surat itu ditulis Jumat (10/4). Diberi judul “Negaraku Jangan Kalah”. Ditanda tangani Ketua umum PDUI, Dr. Abraham Andi Padlan Patarai. 

Berita Terkait : BKS Sudah Sehat, Sudah Ikut Ratas Dengan Presiden Jokowi

Pemilihan kata dalam surat ini sungguh apik dan menarik. Serupa bahasa yang sering dibaca orator ketika berdemo. Membuat siapa pun merinding, atau paling tidak, simpatik ketika membacanya. 

Surat diawali PDUI dengan merinci jumlah kasus corona yang berkembang pesat tepat setelah 40 hari Jokowi mengumumkan kasus pertama. Jumlah kasus konfirmasi baru jauh melampaui jumlah yang dinyatakan sembuh, bahkan jumlah korban yang meninggal melebihi pasien yang sembuh. Itu pun dari angka kasus konfirmasi. Belum terhitung yang meninggal dari kasus PDP. 

Berita Terkait : Bintang Jokowi Mulai Meredup

PDUI pun menyindir Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang beberapa kali mengeluarkan pernyataan kontroversial. “Lupakan perkataan menterimu bahwa ‘corona penyakit yang sembuh sendiri’. Lupakan ucapan menterimu bahwa harga APD tinggi karena ‘salahmu kok beli’. Lupakan janji menterimu bahwa pada 31 Maret 2020 ada 4,7 juta masker produksi BUMN siap disebar ke seluruh negeri, yang belakangan diakui ‘belum ada BUMN produksi APD’,” tulis PDUI dalam suratnya. 

PDUI juga mengeluhkan keresahan ratusan ribu dokter dan tenaga kesehatan lantaran kelangkaan APD. Kalaupun ada, harga APD melangit. Tanpa perlindungan, nyawa para dokter dan tenaga medis terancam. Tapi melihat pasien, mereka juga tak tega membiarkannya. “Haruskah mereka bertaruh nyawa dengan APD seadanya?” tanya PDUI. 
 Selanjutnya