RMco.id  Rakyat Merdeka - Wabah virus corona berdampak buruk ke mana-mana. Termasuk ke stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI). Kebijakan social dan physical distancing untuk menekan penyebaran corona menyebabkan jumlah pendonor turun drastis. Stok darah pun menipis. Di tengah stok darah menipis, ada yang berkelakar: saat ini "naik darah" yang menebal. Rakyat marah karena kian susah.

Ketua bidang Unit Donor Darah PMI, Linda Lukitasari Waseso, menyatakan, stok darah, khususnya di Jabodetabek, sempat turun hingga 50 persen pada awal hingga pertengahan Maret. Bila biasanya dalam sehari PMI menyiapkan sekitar 1.000 kantong darah, saat itu hanya 500. "Menipisnya stok darah terjadi sejak pengumuman kasus awal Covid-19 di Indonesia, awal Maret," ujar Linda, saat dikontak Rakyat Merdeka, semalam.

Padahal, stok darah sangat dibutuhkan bagi para penderita penyakit seperti thalasemia, leukimia, dan demam berdarah. Transfusi darah bagi para penderita penyakit itu tidak boleh putus. "Untuk pasien corona juga ada, tetapi lebih banyak untuk penyakit-penyakit tadi," terangnya.

Melihat kondisi itu, Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, bergerak cepat. Pak JK, sapaan Jusuf Kalla, mengajak masyarakat kembali mendonorkan darahnya. JK menjamin kesehatan pendonor dengan menerapkan protokol ketat. Tiap pendonor yang datang akan diperiksa suhu tubuhnya di pintu masuk. Cuci tangan, tentu. Di dalam ruangan, diberi jarak minimal satu meter antar-para pendonor. Kemudian, para pendonor juga diharuskan mengisi formulir khusus.

Berita Terkait : Sekolah Mulai Dibuka

"Isinya apa pernah ke luar negeri dalam beberapa waktu lalu. Kemudian apakah pernah kontak dengan positif corona. Harus diisi dengan jujur," tutur Linda. Linda memastikan, para petugas PMI sudah memahami tata cara melakukan donor darah tanpa risiko penularan Covid-19.

Langkah lain yang dilakukan JK adalah menyurati TNI dan Polri. Meminta bantuan menginstruksikan jajarannya mendonorkan darah. Permintaan itu disambut baik. Panglima TNI dan Kapolri mengeluarkan perintah bagi para prajuritnya untuk donor darah. Para prajurit korps baju loreng dan korps baju cokelat berbondong-bondong datang ke PMI di wilayah masing-masing untuk melakukannya.

Selain itu, PMI juga melakukan "jemput bola". Para petugas menghampiri pendonor yang mendaftar secara online. Bukan door to door. Tapi, secara kolektif.

Upaya itu membuahkan hasil. Meski masih kurang, namun tak terlalu minin seperti di Maret. "Bila biasanya stok darah PMI kita sebut biasa empat hari, Maret itu hanya satu hari. Sekarang dua-tiga hari," ungkap Linda.

Berita Terkait : JK: Donor Darah TNI Polri Tambah 30 Persen Stok Darah PMI

Sekjen PMI, Sudirman Said, juga menyebut, pasokan sempat mengalami penurunan signifikan di awal merebaknya wabah Covid-19. "Karena para donor mungkin tidak leluasa keluar rumah dan ragu ragu tentang kesiapan unit-unit transfusi darah PMI. Sempat turun antara 30 sampai 50 persen rata-rata nasional," ujarnya saat dikontak, semalam.

Syukur, saat ini persediaan sudah membaik, meski masih kurang. Ini hasil upaya PMI menjemput bola dan mempermudah pelaksanaan donor, tetapi dengan protokol yang aman. Dan dilakukan dengan meminimalkan antrean. Eks Menteri BUMN itu berharap, PMI tidak sampai kekurangan darah. "PMI berterima kasih kepada para donor yang terus mendonorkan darahnya meskipun dalam keadaan sulit," tandasnya.

Ketika stok darah menipis, yang naik darah justru menebal. Wabah corona yang tak kunjung mereda membawa banyak dampak bagi kehidupan rakyat. Khususnya, soal ekonomi. Pedagang tak dapat uang karena tak bisa jualan. Sentra ekonomi Tanah Abang, yang biasanya menangguk untung jelang Ramadhan, ditutup. Demikian juga sentra-sentra bisnis lainnya. Pengusaha makanan banyak yang gulung tikar. Ojek online dilarang mengangkut penumpang. Makin susah bawa pulang uang. Sebanyak 1,6 juta orang kini nganggur karena kena PHK dan dirumahkan. Jumlah orang miskin meningkat.

"Kondisi ini membuat rakyat naik darah. Kalau PMI stok darah tipis, rakyat yang naik darah malah menebal. Stok darah rendah, darah rakyat meninggi," ujar Guru Besar Politik UI, Prof Budyatna.

Baca Juga : Warganya Hilang, Pengadilan AS Denda Iran Rp 20 Triliun

Budyatna meminta pemerintah lekas memikirkan dan menerapkan strategi untuk meminimalisasi dampak ekonomi akibat virus corona ini. "Terpenting, jangan sampai rakyat kelaparan. Ini bom waktu yang bakal meledak. Pemicunya, perut kosong," tandasnya. [OKT]