Setelah Amartha Muncul Ruangguru

Staf Khusus Presiden Jadi Beban Presiden

Stafsus milenial Presiden yang juga CEO Ruangguru, Belva Devara. (Foto: IG@belvadevara)
Klik untuk perbesar
Stafsus milenial Presiden yang juga CEO Ruangguru, Belva Devara. (Foto: IG@belvadevara)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Staf Khusus (Stafsus) milenial diangkat untuk membantu kerja Presiden Jokowi. Tapi kini, stafsus itu malah menjadi beban Presiden. Gara-gara ulah dua orang stafsus, Presiden Jokowi ikut disalahkan.

Yang bikin masalah pertama adalah Andi Taufan Garuda Putra. Dia bikin surat berkop Setkab yang ditujukan ke camat-camat di daerah untuk membantu perusahaannya, PT Amartha Mikro Fintek, menangani Covid-19 di desa-desa. Setelah di-bully, Andi mencabut surat itu dan meminta maaf.

Belum selesai masalah Andi, muncul lagi “kasus” baru. Kali ini, giliran Belva Devara. Dia kena bully karena perusahaannya, Ruangguru, menjadi salah satu aplikator Kartu Pra-Kerja. Ruangguru disebut mendapat proyek senilai Rp 5,6 triliun.

Yang pertama kali mengungkap ini adalah Wasekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik. "Perusahaan yang dipimpin stafsus milenial Presiden jadi salah satu mitra pemerintah dalam menjual pelatihan online bagi peserta Kartu Pra-Kerja. Total anggaran dari negara: Rp 5,6 triliun," cuit Rachland dalam akun twitter pribadinya, @RachlanNashidik, kemarin.

Berita Terkait : Jaga Kepercayaan Rakyat, Sandi Ingatkan Tak Saling Menjatuhkan

Ruangguru melalui Skill Academy memang menjadi salah satu dari delapan digital platform yang menjadi mitra pemerintah dalam memberikan pelatihan bagi peserta Kartu Pra-Kerja. Selain Ruangguru, ada Tokopedia, Bukalapak, MauBelajarApa, Pintaria, Sekolahmu, dan PijakMahir.

Rachland lalu bertanya ke Jokowi soal kebenaran berita ini. "Pak @jokowi, apakah benar 'stafsus milenial' Presiden, Belva Devara, adalah pemilik dan CEO Ruang Guru? Kebijakan ini bukan saja tak perlu, tapi juga korup bila mitra yang ditunjuk adalah perusahaan milik stafsus Presiden," kritiknya.

Setelah cuitan itu, warganet lain ramai-ramai mem-bully Belva. Kritik lebih tajam datang dari politisi PDIP, Masinton Pasaribu. Anggota Komisi III DPR ini menyarankan seorang anak muda seharusnya berpikir kritis untuk mencari solusi bagi bangsa. Bukan malah memikirkan kepentingan pribadi demi mengeruk rupiah. “Pemuda yang menjadi stafsus harusnya bertugas menjadi agen perubahan, bukan agen perusahaan,” katanya, di twitter pribadi @Masinton, kemarin.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, keterlibatan stafsus berlatarbelakang pengusaha dalam program pemerintah bisa diindikasikan tata kelola yang tidak baik. Termasuk ditunjuknya Ruangguru sebagai penyedia pelatihan online. "Konflik kepentingan jelas terasa jika tidak ada proses tender terbuka. Inilah kekhawatiran mendesak jika lingkaran Istana dipenuhi kalangan korporasi," ungkapnya, tadi malam.

Berita Terkait : KPK Imbau 4 Stafsus Presiden Segera Menyerahkan LHKPN

Mendengar semua ini Belva kepanasan. Dia beralasan, sama sekali tidak pernah terlibat dalam proses penunjukan hingga Ruangguru melalui Skill Academy, terpilih menjadi salah satu digital platform untuk program Kartu Pra-Kerja. "Saya sedang konfirmasi ulang ke Istana apakah memang ada konflik kepentingan yang ditanyakan teman-teman semua di sini, walaupun saya tidak ikut proses seleksi mitra," paparnya, di akun twitter pribadinya, @AdamasBelva, kemarin.

Belva mengaku siap mundur jika dirinya terbukti melakukan pelanggaran atas terpilihnya Ruangguru sebagai salah satu digital platform untuk program Kartu Pra-Kerja. "Jika ada (kepentingan), tentu saya siap mundur dari stafsus saat ini juga. Saya tak mau menyalahi aturan apa pun," tegasnya.

Belva mengaku sudah menjelaskan ke Istana terkait kesiapannya untuk mundur. Namun, keputusan mundur tidak bisa diambil secara sepihak. "Saya siap dan sudah menawarkan untuk mundur. Namun, keputusan mundur adalah keputusan besar dan harus didiskusikan dengan Istana. Jadi mohon dipahami bukan hanya masalah saya mau atau tidak," lanjut Belva.

Di linimasa, warganet terbelah menyikapi fenomena ini. Namun, setelah dipertegas dari klarifikasi Belva di twitter-nya, lebih banyak yang mendukungnya meskipun ada juga yang menghujatnya.

Baca Juga : Berdamai Dengan Corona

Akun @klisin misalnya. Ia mengingatkan Belva perihal pengabdian anak muda di era sekarang. Menurutnya, karya anak muda di era sekarang tak lepas dari kritikan pihak-pihak yang iri. "Saya hidup di mana ide-ide brilian anak muda dijegal," tulisnya. “Semangat Mas Bell. Netizen emang ngeselin kadang-kadang," timpal @Tnannana.

Aktivis HAM, Haris Azhar, menjadi pihak yang mengkritik. "Mau jadi apa anak siswa kedepan, dipertontonkan trik rampok negara?? tapi, dikit lagi paling dipecat, biar aman Pa' De. cendol mana cendol. RuangGuru jadi RuangBulus," tulusnya di akun @haris_azhar. [UMM]