Soal Kewajiban Bayar THR

Bulan Ini Dirasa Paling Berat Buat Pengusaha dan Pekerja

Ilustrasi kegiatan industri (Foto: Antara)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi kegiatan industri (Foto: Antara)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Masih ada perusahaan yang belum bisa memastikan kapan Tunjangan Hari Raya (THR) para pekerja akan dibayarkan.

Pembayaran THR bakal tidak kompak. Ada perusahaan yang bakal memberikan THR tepat waktu sesuai ketentuan. Ada pula yang molor. Bahkan, ada potensi perusahaan tidak membayar THR kepada karyawannya."Sebagian ada yang bisa membayar penuh dan tepat waktu. Tetapi ada juga yang tidak bisa membayar penuh sehingga mengambil opsi dipindah ke akhir tahun atau dicicil,” ungkap Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Adhi S Lukman (GAPMMI) mengatakan, saat ini tidak semua perusahaan memiliki kemampuan yang sama untuk membayar THR. “Saya dapat laporan, sebagian sudah merumahkan. Sedangkan sebagian masih mencari alternatif untuk menunda THR,” jelasnya.

Berita Terkait : May Day, Puan Maharani Minta Pengusaha Tak PHK Buruh

Hal ini disikapi netizen. Menurut Vicky-marcelo28, untuk THR sebenarnya sudah ada dalam budget tahunan perusahaan. Jadi, seharusnya THR bisa dibayarkan full kepada para pekerjanya. “Cuma tergantung cashflow perusahaan juga yah. Sisanya ya tergantung elite global perusahaan deh,” ujarnya.

Menurut PatPatP25100251, perusahaan yang masih sehat sebelum dihantam Covid-19 harus membayar THR. Kata dia, bagi perusahaan lebih baik punya karyawan setia dan produktif ketimbang gonta-ganti pekerja. “Klo emank sudah goyang dari sebelum Covid-19, ya diberi pengertian saja karyawannya... Buka-bukaan laporan keuangan saja,” tuturnya.

Ayuarsitaa menyarankan kepada perusahaan transparan soal keuangan. “Kalo perusahaan tempatku kerja di bidang minyak industri menetapkan gaji dipotong 30% untuk melindungi beberapa karyawan produksi yang masih kontrak dan THR 50% dikeluarkan sisanya nanti akhir tahun,” katanya.

Berita Terkait : Pemerintah Obral Insentif Pajak Ke 18 Sektor Usaha

“Pengusaha paling berat menghadapi bulan ini, gaji pegawai, lalu menyusul THR, dibarengi dengan pajak SPT, sedangkan pemasukan nihil sudah 2 bulan,” ungkap Deasy Kurniawati. “Kasihan pengusaha Indonesia. Di masa susah begini gak dapat bantuan dari pemerintah, yang ada malah dapat tekanan dari mana-mana: harus Bayar THR, jangan PHK, gaji harus naik. Belum lagi diperes preman dan kuli,” tutur Neilotraidub.

“Pemerintah harus bisa memilah pengusaha busuk dengan tidak. Ada pengusaha yang memang babak belur akibat Covid sehingga tak mampu memenuhi kewajibannya. Ada pula yang pura-pura babak belur demi menghindari kewajibannya,” ungkap Gandawan.

FSPMI_KSPI menegaskan, pengusaha tidak boleh memanfaatkan situasi aji mumpung dan serakah (greedy). Pengusaha tidak boleh melakukan PHK, membayar upah dan THR tidak penuh. “Dunia usaha telah mendapat dana stimulus Rp 220,1 triliun dari total Rp 405,1 triliun atau sebesar 54 % (untuk insentif pajak dan KUR),” bebernya.

Baca Juga : Tes Massal Di-Gratis-kan Saja, Aktivitas Kembali `New Normal`

Chandranegara mempertanyakan sanksi bagi perusahaan yang tidak melaksanakan pembayaran THR. “Kalau tdk melaksanakan kewajiban, sanksinya apa?,” ujarnya. “Kalo seperti ini apakah perusahaan tetap kena sanksi kalo ga bayar THR?,” tambah Rivaldhi17.

Kepinsanjaya mengungkapkan, selama pandemi pengusaha rela pendapatan bersihnya berkurang lebih dari 50 persen buat urus semua operasional. Termasuk gaji, bonus, THR, dan lain-lain. Pengusaha, kata dia, lebih mementingkan survive supaya tidak collaps sampai pandemi selesai. “Ini solusi paling win-win solution. Ga ada target-target lain dulu,” ungkapnya. [ASI]