RMco.id  Rakyat Merdeka - Minimnya Alat Pelindung Diri (APD) yang dimiliki sejumlah rumah sakit di Jakarta membuat banyak organisasi bersimpati dan melakukan gerakan sosial dengan memberikan bantuan kepada tenaga kesehatan dalam memerangi Covid-19 ini.

Salah satunya adalah Indonesia Bright Foundation (IBF). IBF merupakan organisasi nirlaba yang dibangun oleh alumni program fellowship dari Singapore International Foundation.

Berkolaborasi dengan Mohammad Hatta Center dan sejumlah donator individu lainnya, IBF menyumbangkan puluhan Alat Pelindung Diri (APD) reusable dan vitamin kepada tenaga medis di empat rumah sakit di Jakarta yaitu RS Jakarta Medical Center (JMC), RSUD Koja Jakarta, RSUP Sitanala Tangerang, dan RS Harum Sisma Medika Jakarta Timur pada bulan ini.

Baca Juga : Tenang, Kunci Pasien Covid-19 Cepat Sembuh

Chairwoman IBF, Dian Permatasari Mashari, menyampaikan bahwa bantuan APD ini terwujud berkat gotong royong dan kecepatan respon para anggota IBF dalam berpartisipasi memberikan solusi atas persoalan APD yang dihadapi tim medis.

"Bantuan ini adalah wujud dari rasa perhatian dan kepedulian kami kepada tim medis atas dedikasi mereka yang luar biasa dalam menangani pasien baik yang telah terbukti positif COVID-19 maupun baru terduga," ujar Dian di Jakarta, Jumat (15/5).

Lebih lanjut menurutnya, APD reusable tersertifikasi dipilih IBF sebagai opsi donasi karena satu APD reusable dapat digunakan sebanyak 15-20 kali sesuai hasil uji APD tersebut.

Baca Juga : Pasien Sembuh Di Flat Isolasi Mandiri Sebanyak 145 Orang

"Dan dengan memakai APD tersertifikasi, tim medis mendapatkan keamanan yang selayaknya dalam bertugas," tutur Dian. Selain di Jakarta, anggota IBF lainnya, Moch. Nunung Kurniawan, yang juga merupakan Koordinator Tim Gerak Cepat Alumni Pati, bersama juga dengan anak-anak asuh IBF sebelumnya telah melakukan gerakan sosial sejenis di Jawa Tengah.

Di samping itu, IBF berkolaborasi dengan beberapa institusi lain saat ini sedang mengupayakan donasi ventilator portable ke beberapa RS untuk membantu pasien Covid-19 yang sesak nafas.

“Bantuan ini tentunya tidak seberapa namun saya yakin apabila masyarakat Indonesia bergotong royong melakukan gerakan yang sama, upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dapat menjadi maksimal. Dalam situasi seperti ini, kita tidak dapat sepenuhnya menyerahkan penanganan pandemi ini kepada Pemerintah. Semangat gotong royong seluruh pihak perlu kita lakukan,” pungkas Dian. [SRI]