Di Malam Takbiran, Samarinda Dikepung Banjir

Kondisi banjir di Kota Samarinda (Foto: Twitter @mpnhani)
Klik untuk perbesar
Kondisi banjir di Kota Samarinda (Foto: Twitter @mpnhani)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wilayah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kembali dikepung banjir pada malam Lebaran ini. Banjir terjadi akibat curah hujan tinggi dalam beberapa hari belakangan.

Seperti dilaporkan Antara, sejumlah ruas jalan serta pemukiman warga di Ibu Kota Kaltim tersebut digenangi luapan air. Kondisi terparah terjadi di Kecamatan Samarinda Utara, yang sempat melumpuhkan akses jalan menuju Bandara APT Pranoto Samarinda sejak Jumat (22/5). Saat ini, genangan meluas di sejumlah titik langganan banjir, seperti di Jalan dr Sutomo, Jalan Pangeran Antasari dan kawasan simpang Sempaja Samarinda.

Berita Terkait : Kebanjiran, 128 Warga Balekambang Ngungsi Dengan Protokol PSBB

"Tadi pagi genangan air hanya sebatas mata kaki, tapi saat ini ketinggian air sudah mencapai lutut orang dewasa," kata Sudarno, warga Sutomo, Sabtu malam (23/5).

Di lokasi tersebut terdapat masjid yang sebagian halamannya juga ikut terendam banjir. Namun, terlihat masih ada aktivitas panitia pembagian zakat dan masyarakat yang mengumandangkan takbir.

Berita Terkait : Waduh, Suku Pedalaman Amazon Di Ekuador Kena Corona

Sejumlah warga juga mulai memindahkan barang, karena khawatir air akan masuk ke rumah warga. "Persiapan saja, karena lebaran tahun lalu rumah kami terendam, dan banyak barang yang rusak, makanya kami siap-siap pindahkan barang," kata Marzuki, warga di lokasi yang sama.

Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kota Samarinda, Riza Alfian Noor, memperkirakan hujan masih akan terjadi pada periode 23 hingga 25 Mei mendatang. “Kami prediksinya musim kemarau paling cepat datang akhir Juni. Itu daerah Kaltim bagian utara. Untuk Samarinda diprediksi di akhir Juli baru kemarau. Artinya warga masih harus tetap waspada ancaman banjir,” ujar Riza.

Berita Terkait : Ibu Kota Baru Roboh Sebelum Dibangun

Riza menjelaskan, masih tingginya curah hujan karena pola karakteristik pada masa transisi menimbulkan anomali cuaca. Taitu ketika periode yang relatif pendek, cuaca berubah. [USU]