Situasi Belum Kondusif

Bikin Petisi, Emak-emak Gak Rela Anaknya Masuk Sekolah

Ilustrasi siswa SD masuk sekolah (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi siswa SD masuk sekolah (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebanyak 60 ribu orang menandatangani petisi mendesak penundaan masuk sekolah di tengah pandemi Covid-19. kPetisi ini merupakan respon terhadap rencana pemerintah membuka kembali sekolah-sekolah.

Petisi yang disebarkan melalui situs change. org itu menargetkan 75 ribu tanda tangan. Baru selang sehari dibuat pada Rabu (27/5), petisi yang diinisiasi seorang ibu dengan satu anak bernama Watiek Ideo itu sudah hampir memenuhi target tanda tangan.

Dalam petisi yang telah ditandatangani 60.351 orang per Kamis (28/5) malam, Watiek meragukan siswa bisa memakai masker sepanjang hari, jika kegiatan di sekolah kembali diaktifkan.

“Bagaimana jika siswa yang masuk sekolah adalah siswa junior yang masih anak-anak? Relakah kita mengizinkan anak-anak masuk sekolah? Padahal, Lebaran aja masih banyak yang melanggar protokol kesehatan,” kata Watiek dalam petisi.

Netizen khawatir, pembukaan sekolah bisa membahayakan warga sekolah dan menciptakan klaster baru, jika penerapannya tidak matang dan tepat.

Baca Juga : Larangan Ngobrol Di KRL Bakal Susah Diterapkan

“Setuju, tunda masuk anak-anak untuk sekolah. Perpanjang dahulu PJJ (pembelajaran jarak jauh, Red). Situasi dan kondisi yang tidak pasti seperti ini terlalu berisiko bagi para orang tua untuk membiarkan anak-anaknya sekolah. Kalau dipaksakan, sama saja dengan mengantarkan anak-anak pada kematian,” ujar LenteraKoe.

“Anak-anak yang justru kuat dan sehat, malah dikorbankan masa depannya. Masuk sekolah saja, dicoba saja masuk seminggu 2-3 hari saja, sambil dievaluasi,” ujar RahadiMuji.

EchoPiR mengatakan, new normal saja belum bisa diketahui keefektifannya. Dia tidak rela anak-anak dibiarkan sekolah, padahal situasi masih berisiko tinggi. Dia bahkan mengusulkan tahun ajaran baru diubah menjadi awal tahun.

“Mundur 6 bulan. (dimulainya ajaran baru tidak Juli, tapi Januari ). Keluarga saya tidak keberatan,” katanya.

 

Baca Juga : Proyek Sejuta Rumah Kembali Hidup Di Era Kenormalan Baru

“Saya bukan guru. tapi punya perpus keliling mandiri. Mulai minggu besok door to door bagi materi pendidikan ke anak-anak di Bandar Lampung. Lebih baik menunda daripada menambah anak terkena virus. Sudah ratusan anak terkena virus, apa tega ditambah lagi? Bisa jamin keselamatannya?,” ungkap Adionooo.

Baesuni221 mengatakan, sekolah boleh masuk, asal wabah corona sudah pergi. Dia tetap lebih setuju anak-anak belajar di rumah aja dulu. “Kalau pandemi ini udah mendekati nol baru masuk. Sya ga yakin kalau anak-anak bisa melaksanakan protokol kesehatan. Orang tua aja susah,” tuturnya.

TomJerry525 tidak setuju anak-anak masuk sekolah sekarang. Sebenarnya, new normal di saat keadaan pandemi corona seperti ini sangat berisiko bagi masyarakat. “Ayahnya yang bekerja akan membawa virus masuk ke dalam rumah. Yang terbaik adalah teruskan PSBB. Jangan hanya ekonomi yang menjadi faktor utama,” ujarnya.

Penolakan juga dilontarkan Faysaz1. Dia meminta pemerintah mendengar imbauan Ikatan Guru Indonesia agar tahun ajaran baru ditunda di bulan Januari 2021. “Kami orangtua merasa sangat khawatir sekali. Dan biar ada kesempatan bagi kami menyiapkan dana masuk sekolah, karena bagi yang terdampak ini sangat sulit sekali dapat uang,” katanya.

“Tunda masuk sekolah selama pandemi. Lindungi keluarga kita. Buka sekolah jika sudah ada kepastian kesehatan dan keselamatan anak-anak. Apa negara mau menjamin anak-anak sekolah selamat dari Covid-19?,” tegas Sahatpsimbolonz.

Baca Juga : Direktur Anyar Damri Kudu Siap Jalani Bisnis Di Tengah Pandemi

Ijalzaid mengatakan, sebaiknya sekolah masuk pada tahun depan saja. Dia menyangsikan pemerintah bisa menjalankan protap kesehatan. “Ke orang dewasa aja ga bisa. Sudahlah jangan anak-anak ikut diajak nyoba-nyoba Covid. Ga ada yang salah kok, kalo anak-anak masuk sekolah nanti 2021. Silakan yang bekerja dulu saja,” ujarnya.

“Jangan masuk sekolah dulu plis anak-anak SD. Khawatir banget mereka kenapa-napa, ponakan gua ada yang SD, kalau nanti masuk pasti dia lupa kalau lagi ada Covid-19 ini. pasti maunya main, makan-makanan SD, megang-megang benda gak cuci tangan. haduuu sedih banget sama negara gini,” kata ulpahSM.