RMco.id  Rakyat Merdeka - Di tengah pandemi Covid-19, teroris sialan bangun dari tidurnya dan langsung membunuh seorang polisi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Dasar teroris, nambah penyakit saja.

Aksi teroris biadab itu terjadi di Polsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel, dinihari kemarin. Pelakunya bernama Abdurrahman alias AR. Dia datang ke Polsek Daha pukul 02.15 WITA. AR memulai aksinya dengan menyiramkan bensin ke mobil patroli di sekitar Polsek, lalu membakarnya.

Aksinya sukses. Api berkobar, melahap mobil dinas kepolisian dengan sangat cepat. Keadaan di Polsek pun mencekam. Perhatian para petugas pun terfokus pada mobil itu. Di tengah kondisi ini, AR masuk ke Ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Di dalam SPKT, ada Brigadir Leonardo Latupapua. AR langsung menyabetkan samurai yang dibawanya ke Leonardo. Leonardo, yang tak siap, tak bisa menghindar.

Mendengar keributan itu, Bripda M Azmi, yang berada di Ruang Unit Reskrim menuju Kanit Intel meminta bantuan kepada Brigadir Djoman Sahat Manit. Keduanya pun menuju ruang SPKT. Sayang, tubuh Leonardo sudah tersungkur bersimbah darah. Nyawanya tak bisa ditolong.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Bukannya takut atau menyerah, AR justru mengejar Djoman dan Azmi menggunakan samurai yang dibawanya. Kedua anggota Polsek Daha menyelamatkan diri ke Ruang Unit Reskrim, dan berhasil mengunci pintu. Kemudian mereka meminta bantuan Polres Hulu Sungai Selatan menggunakan telepon genggam.

Saat anggota Polres Hulu Sungai Selatan tiba, AR tak mau menyerah. Hingga akhirnya pelaku terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas. Pelaku kemudian dibawa ke RSUD Hasan Basry Kandangan dan meninggal saat hendak diberi pertolongan medis. Sedangkan korban anggota Polsek dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan lebih lanjut.

Ramli, warga Bayanan yang menjadi saksi mata, menjelaskan, peristiwa penyerangan itu bersamaan dengan terbakarnya mobil patroli Polsek Daha Selatan. “Saat itu sekitar pukul 2 lewat, kami fokus memadamkan api yang berkobar di mobil patroli," ungkapnya.

Dia menyebut, di tengah kebarakan, AR mengejar seorang polisi yang lari menuju kantor Polsek. Anggota pemadam kebakaran sempat berniat menolong Polisi yang dikejar. Namun, saat itu pintu Kantor Polsek dikunci pelaku dari dalam, dan lampu sengaja dimatikan.

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Mengenai pelaku, Ramli melihat secara samar. “Orangnya masih muda, rambut agak gondrong bergelombang, dan memegang samurai. Ada dari pemadam kebakaran berniat menolong, tapi dicegah karena pelaku bersenjatakan samurai,” tuturnya.

Mengenai jumlah pelaku, masih simpang siur. Ada yang mengatakan lima orang, adapula yang mengatakan hanya satu orang. Namun, menurut Ramli, yang terlihat dari luar ada dua orang. Mereka datang menggunakan sepeda motor jadul.

Polda Kalsel terus mengusut kasus penyerangan yang diduga dilakukan simpatisan ISIS tersebut. Kabid Humas Polda Kalsel, Kombes M Rifai mengatakan, dua anggota Kepolisian menjadi korban. Satu meninggal dunia, satu lagi luka-luka. “Benar, satu gugur dan satu anggota lagi hanya luka-luka saja,” ungkapnya.

Ketika dilakukan olah TKP, ditemukan sejumlah barang bukti. Di antaranya satu unit sepeda motor yang dipakai pelaku, sebuah jeriken bensin, dan samurai. Ada pula dokumen-dokumen beridentitas ISIS seperti kain dan kartu anggota, serta selembar surat wasiat bertulis tangan yang disimpan dalam tas pinggang pelaku.

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

Surat itu berjudul “Jalan Ini Hanya untuk Islam”. “Hari ini aku telah datang dan memerangi kalian (thagut). Dan pesanku untuk ikhwan di mana pun berada, bangun dan sadarlah. Jihad ini tak akan pernah henti, sampai kiamat sekali pun. Maka bangun dan sadarlah dari tidur yang panjang ini. Bangun dan sadarlah,” tulis AS disertai tanda tangan. Di sebelah kirinya ada simbol ISIS.

Jenazah Brigadir Leonardo dibawa ke RS Daha Sejahtera, selanjutnya diserahkan kepada keluarga. Korban dimakamkan usai Ashar di Desa Sungai Pinang, Daha Selatan, tak jauh dari rumahnya di Desa Tumbukan Banyu. Korban meninggalkan istri dan dua anak. Istri korban asli warga Daha Selatan. Sedangkan Leonardo kelahiran Lampung. [MEN]