RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Ombdusman Alvin Lie menilai, peraturan untuk calon penumpang pesawat ruwet dan berbiaya mahal. 

Menurut dia, banyaknya aturan yang dibuat pusat dan daerah semakin tidak masuk akal. Dibuatnya berlapis-lapis, baik yang dikeluarkan tingkat RT hingga kecamatan. Termasuk surat keterangan sehat, bebas Covid-19 dengan biaya cukup mahal hingga mengurus surat izin keluar masuk (SIKM).

Alvin bilang, proses pembuatan SIKM berbelit-belit dan membutuhkan waktu lama. Keruwetan itu membuat calon penumpang sulit memastikan jadwal perjalanan.

Berita Terkait : Gatot: KAMI Bawa Berkah Untuk Demonstran Bayaran

"Dengan peraturan yang sering berubah dan tidak sinkronnya peraturan pusat dengan daerah, bikin repot," katanya kepada Rmco.id, Rabu (3/6).

Selain ruwet, kata Alvin, biaya penerbangan bagi setiap calon penumpang melonjak. Pasalnya, calon penumpang wajib menyertakan hasil tes bebas Covid-19 dengan biaya tes antara Rp 500 ribu-Rp 2,5 juta. "Biaya uji Covid-19 bisa lebih mahal daripada harga tiket pesawat," ujarnya.

Alvin juga melihat waktu perjalanan penumpang dengan pesawat makin panjang. Pasalnya, penumpang diwajibkan datang ke bandara 5 jam sebelum penerbangan untuk validasi persyaratan terbang. Dengan ini, perjalanan pesawat udara sudah tak lagi efisien.

Baca Juga : DPRD Mau Sisihkan Anggaran Buat Tangani Banjir

"Padahal durasi penerbangan dari Jakarta ke Surabaya hanya 1 jam. Jakarta ke Semarang, Yogya dan Solo hanya sekitar 45 menit penerbangan. Apa masuk akal?" kata dia.

Alvin juga membandingkan perjalanan darat lewat tol Trans Jawa. Jakarta-Semarang hanya sekitar 5 jam 30 menit sampai dengan 6 jam. Jakarta-Solo hanya 6 sampai dengan 7 jam. Jakarta-Surabaya sekitar 9 jam. "Apakah nalar bepergian naik pesawat untuk rute Jawa seperti ini," tegasnya.

Menurut dia, wajar jika maskapai penerbangan saat ini memilih berhenti terbang karena sudah tidak efisien lagi. Banyak calon penumpang gagal terbang karena persyaratan tidak terpenuhi meski sudah mengantongi tiket.

Baca Juga : Sekjen PPK Kosgoro 1957 Puji Kinerja Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

"Bisa bayangkan betapa pincangnya Jakarta jika pelaku bisnis dan pekerja dari daerah semua stop terbang," ucapnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengeluh karena penumpang yang ingin terbang harus tes polymerase chain reaction (PCR) swab yang biayanya bisa mencapai Rp 2,5 juta. Biaya itu lebih mahal daripada beli tiket pesawat. Industri penerbangan menghadapi penurunan penumpang yang sangat drastis karena pola ini.[KPJ]