RMco.id  Rakyat Merdeka - Di saat susah seperti sekarang ini, orang kaya tidak boleh hanya kenyang sendiri. Orang kaya harus berbagi dengan orang miskin. Sebab, jika yang miskin kelaparan, yang kaya juga bakal kena imbasnya. Bahkan bisa ikutan mati.

Demikian salah satu poin yang disampaikan pakar psikologi UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Prof Komaruddin Hidayat, dalam serial webinar Rakyat Merdeka #3 bertajuk "The New Normal dan Psikologi Masyarakat Kita" yang dipandu wartawan senior Rakyat Merdeka Budi Rahman Hakim, kemarin.

Baca Juga : Sore Ini, Duo Ducati Kuntit Quartararo

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia ini mengumpamakan hidup di tengah pandemi seperti burung berkepala dua. Gambar burung berkepala dua ini ditemukan Komaruddin di sebuah fabel (cerita tentang kehidupan hewan) di Candi Mendut.

Kepala yang satu di atas, kepala satunya di bawah. Kepala atas menyimbolkan orang kaya. Sedangkan kepala bawah menyimbolkan orang miskin. Keduanya hidup dalam tubuh yang sama.

Baca Juga : Serapan Anggaran Di Masa Pandemi: Kemensos Tertinggi, Mensos Puji Bawahan

Komaruddin mengisahkan, kepala atas memiliki beragam pilihan makanan. Sementara kepala bawah hanya dapat sisa makanan yang jatuh dari kepala atas. Suatu ketika kepala bawah meminta ke kepala atas bagian makanan yang segar-segar. Akan tetapi, upaya itu tidak digubris. Kondisi ini kemudian berakhir fatal bagi kedua kepala yang hidup dalam satu tubuh itu.

"Apa yang terjadi? Akhirnya kepala bawah tadi memakan jamur beracun. Alhasil, burung itu mati," ujarnya.

Baca Juga : Mau Usut `King Maker`, KPK Tanya Bareskrim-Kejagung Dulu

Di saat wabah corona ini, lanjut mantan Rektor UIN Jakarta ini, kalau masyarakat bawah tidak diamankan kesejahteraannya, bisa berakibat fatal. Bangsa ini akan hancur. Kalau bangsa hancur, orang kaya juga bakal sengsara.

"Hotel boleh saja dimiliki orang kaya, tapi kalau tidak ada tamu, tiarap juga dia. Yang selama ini merasa kaya, banyak punya aset, punya pesawat, ketika tidak ada penumpang, mereka kalang-kabut juga. Jadi, sekarang kita hidup dalam ketergantungan kolaboratif society," jelasnya.
 Selanjutnya