RMco.id  Rakyat Merdeka - Gambar mata Novel Baswedan tiba-tiba memenuhi medsos alias media sosial seharian kemarin. Ini bentuk dari kekecewaan warganet terhadap tuntutan 1 tahun penjara untuk penyiram air keras ke mata penyidik senior KPK itu. 

Ada banyak gambar mata Novel yang berseliweran di Twitter. Pertama, gambar di sebuah tembok di pinggir jalan. Sangat besar. Ada tiga kotak menyerupai bingkai. Di dalamnya ada wajah digambar menggunakan cat berwarna hitam dan putih. Ketiga orang itu Wiji Thukul dengan keterangan hilang, Novel Baswedan diteror, dan Munir diracun. Di atas ketiga gambar ini ada tulisan #MENOLAKLUPA. 

Baca Juga : Selama PSBB, Satpol PP Jaktim Tindak 6.243 Orang Pelanggar Protokol Kesehatan

Kedua, karikatur Novel memegang mawar merah. Mengenakan jas berkemeja putih, mata putih Novel sangat menyeramkan. Di atasnya ada tulisan: Menolak Lupa dan Luka. Gambar ini seakan meminta kita terus mengingat mata Novel yang dirusak orang tak bertanggung jawab. 

Ketiga, ada juga gambar Novel berkacamata mengenakan sweater. Di sebelah kiri kacamatanya, dituliskan simbol tanda tanya. Dengan keterangan: Kasusnya Ditangani 3 Tahun. Tuntutan Hukuman Cuma 1 Tahun. 

Baca Juga : The Baby Alien, Pantang Balapan Sebelum Fit 100 Persen

Keempat, foto Novel mengenakan baju muslim berpeci. Dalam foto ini sangat jelas, kedua mata Novel sangat berbeda. Yang kanan normal, yang kiri lebih dominan warna putih. 

Kekecewaan juga diungkapkan netizen. Salah satunya @ferkimjasmine yang sudah tidak sabar menunggu Rahmat Kadir dan Ronny Bugis keluar penjara. “Guys kalo pelaku bebas, tolong siram mukanya pake air keras. Terus bilang sorry lurd nggak sengaja cuma dendam aja,” cuitnya. Akun @taafukkk menggambarkan, mata Novel tak akan pernah buta menegakkan keadilan. “Yang disiram matanya yang cacat hukumnya. Wonderfull Indonesia,” timpalnya. 

Baca Juga : Jaga-jaga Demo Buruh, Polda Metro Jaya Kerahkan 9.346 Personel Gabungan

Akun @XVanjul bahkan curhat panjang lebar. Dia heran dengan hukum yang terjadi di Indonesia. “Bukankah seharusnya negara menjadi tempat di mana kita merasa aman, dan demokrasi menjadi alat bernegara yang praktis. Sungguh negeri ini negeri ngeri. Jika pemimpin dan para intelektualnya keblinger. Ah sudahlah. Maafkan jempolku yang nggak sengaja ngetik,” selorohnya. 

“Nggak usah mendirikan hukum, jika tidak ada keadilan di dalamnya! Lantas apa gunanya sila ke-5? Nenek moyang susah payah mendirikan Pancasila, kalian malah menyelewengkan,” timpal @Hapissativa. Bahkan, @SitiZulaehaa bawa-bawa pengadilan Allah sebagai pesan bahwa apa yang dilakukan di dunia akan mendapat balasan di akhirat. [MEN]