RMco.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah merampungkan penyidikan Bupati Bengkalis nonaktif, Amril Mukminin (AM). Amril, tersangkut kasus dugaan suap proyek pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis, Riau.

KPK hari ini melimpahkan berkas perkaranya ke pengadilan. "Hari ini KPK melaksanakan pelimpahan berkas perkara Terdakwa Amril Mukminin, Bupati Bengkalis (non aktif) dalam dugaan suap terkait proyek multiyears atau tahun jamak pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis, Riau ke PN Tipikor Pekanbaru," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri lewat pesan singkat, Rabu (17/6).

Setelah dilimpahkan, penahanan sepenuhnya sudah menjadi kewenangan dari Majelis Hakim PN Tipikor Pekanbaru. Sementara tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK tinggal menunggu jadwal persidangan yang akan dikeluarkan dari majelis hakim.

Berita Terkait : Bupati Bengkalis Non Aktif Amril Mukminin Dituntut 6 Tahun Penjara

"Persidangan akan dilaksanakan secara online mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang saat ini masih terjadi," tutur Ali.

Dalam perkara ini, Amril akan dijerat dua dakwaan. Pertama, melanggar Pasal 12 huruf a UU Tipikor subsider Pasal 11 UU Tipikor juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP. Semenatra yang kedua, Pasal 12 B Ayat (1) UU Tipikor juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Amril dan Direktur PT Mitra Bungo Abadi, Makmur alias AAN (MK) ditetapkan sebagai tersangka dalam pengembangan perkara dugaan tindak pidana korupsi peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih di Kabupaten Bengkalis. Makmur ditahan KPK sejak 31 Oktober 2019.

Berita Terkait : Eks Panitera PN Jakut Dieksekusi Ke Lapas Sukamiskin

Proyek pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning melalui skema multiyears adalah salah satu bagian dari enam paket pekerjaan jalan di Kabupaten Bengkalis tahun 2012 dengan nilai anggaran Rp 537,33 miliar.

Pada Februari 2016, sebelum Amril menjadi Bupati Bengkalis, dia diduga menerima Rp 2,5 miliar untuk memuluskan anggaran proyek peningkatan Jalan Duri-Sei Pakning tahun 2017-2019.

Kemudian, sejak Juni sampai Juli 2017, Amril diduga menerima Rp 3,1 miliar dalam bentuk dolar Singapura. Penerimaan uang tersebut diduga berasal dari PT Citra Gading Asritama (CGA) dinyatakan sebagai pemenang tender proyek.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

"Selama penyidikan kasus ini, KPK telah memeriksa total 63 saksi," tutup Ali. [OKT]