RMco.id  Rakyat Merdeka - TNI jadi sorotan warganet terkait acara dangdutan di RS Darurat Wisma Atlet. Warganet mempersoalkan karena acara tersebut digelar di saat corona masih mengancam. Padahal, di tempat lain, acara dangdutan seperti ini dilarang. Bahkan dibubarkan aparat. Terkait hal ini, korps baju loreng menyampaikan alasannya.

Acara dangdutan di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran itu digelar Sabtu sore, pekan lalu. Sehari setelahnya, acara ini viral di media sosial. Dalam video yang tersebar itu, para tenaga kesehatan dan petugas TNI berjoget sambil diiringi lagu dangdut.  Video ini ramai di medsos dan di-share warganet. Salah satunya, musisi Anji lewat akun Twitternya, @duniamanji. Dia mengunggah video dangdutan itu di timelinenya.

"Dangdutan di Wisma Atlet. Saya tahu izin kerumunan sudah dikeluarkan. Tapi tetap berjarak. Ini Nakes mau saling menularkan Virus atau bagaimana?" cuitnya, Minggu, kemarin. 

Baca Juga : BPBD: Banjir, 2.863 Orang Halmahera Utara Mengungsi

"Oke saja sih seperti itu. Tapi izinkan Musisi manggung lagi seperti ini. Kasian ribuan/jutaan Musisi yang kehilangan pekerjaan," lanjutnya. Netizen kemudian menyerbu kolom komentar vokalis band Drive itu. 

Kepala Kesehatan Kodam (Kakesdam) Jaya Kolonel CKM Donny Guntur pun memberi klarifikasi. Dia menjelaskan, dangdutan yang digelar pukul 16.00-18.00 di halaman RSD Wisma Atlet itu merupakan acara internal. Acara digelar sebagai perpisahan beberapa pejabat yang sudah bertugas sejak awal RS darurat itu berdiri, hingga hari ini.  "Acara itu hanya dilaksanakan sebentar. Intinya adalah pamitan beberapa pejabat dan petugas, lalu ada sedikit hiburan musik yang kemudian langsung diakhiri," ujarnya, kemarin.

Donny mengklaim, telah menerapkan protokol kesehatan saat acara tersebut berlangsung. Misalnya, dengan membatasi peserta, memakai masker, dan menjaga jarak. Yang hadir, hanya petugas kesehatan (nakes). "Selain petugas kesehatan, tidak ada orang lain yang diizinkan masuk," tegas Donny. 

Baca Juga : Menteri Uno Dukung Pembangunan Homestay Untuk Gejot Wisata Mandalika

Namun, kata Donny, saat itu para nakes sangat antusias ketika mendengarkan musik. Suasana pun jadi agak tak terkendali. "Di sini orangnya stresnya tinggi ya, kita kan mencoba anak-anak itu kan berbulan-bulan, satu bulan full di sini nggak keluar dari Wisma Atlet gitu, jadi dengar musik sedikit saja, sudah senang itu. Telanjur asik," imbuhnya. 

Melihat situasi itu, Donny yang juga Koordinator Nakes RSD Wisma Atlet, langsung memerintahkan komando lapangan untuk membubarkan acara. "Kan memang acara sudah selesai jadi kita bubarkan, cuman telanjur ada (video)," tandasnya.

Meski sudah ada klarifikasi, tetap saja beberapa warganet masih lontarkan kritik. "Apa tidak ada alternatif lain untuk hiburannya bung?" cuit @pratamasatrio_. "Cuma sebentarnya berapa jam?" tanya @Michael26101368. 

Baca Juga : Son Takjub Dengan Gaya Melatih Mourinho

Akun @uburmerah mencuit satir menanggapi tanggapan dari TNI itu.  "Sesuai protokol = masker dibuka, jarak kurang dari semeter, dan ramai saling bergoyang. Cuma sebentar = perhaps he thinks santuy aja virus nyebarnya lama," komentarnya.  Sementara @d1t_RG menyebut, kalau tentara dan polisi yang bikin acara sih bebas-bebas saja. "Kalau yang bikin acara TNI atau Polri boleh-boleh aja n bebas kabeh, nggak ada yang melarang kok," sindirnya. 

Tapi, banyak juga yang membela korps baju loreng. Satu di antaranya, @wijayas73. "Ngapain klarifikasi. hak mereka, namanya manusia butuh hiburan bung," kicaunya, keras. Akun @Donik56589192 mengamini. "Jangan munafik, mereka juga butuh hiburan," bela dia.

"Ya, petugas medis dan prajurit TNI juga manusia butuh hiburan setelah menjalani tugas yang cukup berat, tetap menjaga protokol kesehatan dan jaga jarak," sambung @GunawanPori. [OKT]