RMco.id  Rakyat Merdeka - Rapid test menjadi salah satu syarat untuk bepergian. Sayangnya, tes itu sekarang sudah jadi ladang bisnis.

Pengamat penerbangan yang juga anggota Ombudsman, Alvin Lie mengatakan, indikasi rapid test sudah dijadikan ladang bisnis dengan munculnya drive thru rapid test.

Berita Terkait : Mulai Sore Ini, 5 Ruas Jalan di Bandung Akan Ditutup 3 Kali Sehari

Seperti tarif promo yang terlihat di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah maskapai, bahkan menggeber promo untuk memfasilitasi penumpang yang hendak terbang. Citilink, anak usaha Garuda, menggratiskan uji cepat bagi penumpangnya dalam jumlah tertentu, yakni 500 penumpang.Lion Air Group juga mengenakan tarif Rp 95.000.

Menurutnya, di negara lain untuk para pelawat domestik berlaku penekanan pada protokol standar kesehatan. Di antaranya masker, Jaga jarak, pengukuran suhu tubuh. “Di negara-negara lain, rapid maupun PCR hanya untuk orang yang products gejala. Ketersediaan alat tes diutamakan untuk mereka, tidak dibisniskan sebagaimana di sini,” ujarnya, Kamis (2/7).

Berita Terkait : Hadapi Pandemi, Masyarakat Terapkan Nilai-nilai Pancasila

Is_pelssy mengatakan, mahalnya rapid test semakin menyusahkan masyarakat. Kata dia, di tengah kecemasan, saat susah mencari segenggam beras, rapid test dijadikan ladang bisnis. “Sungguh terlalu. Masyarakat ditindas dengan harga rapid Covid-19 Rp 70 ribu disulap antara 350 ribu sampai 1 juta per orang,” ujarnya.

“Sekelas negara kecil Ecuatorial Guinea Afrika Barat, dari rapid, PCR, swab gratis tis... Karantina kelas HIlTON or IBIS Hotel baru ditanggung company. Kemaren di +62 mungkin pas kebetulan aja bayar. Rapid 500 ribu, PCR Rp 2,5 juta,” kata Mwildhan.
 Selanjutnya