RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi terus mengingatkan para bawahannya soal ancaman resesi yang menghantui dunia akibat pandemi corona.

Para menteri dan kepala daerah diminta kerja lebih keras lagi untuk menyelamatkan Indonesia dari corona dan dampaknya terhadap ekonomi. Jokowi me-warning, kalau kondisi supply,  demand hingga produksi saat ini sudah terganggu.

“Indonesia sudah harus bersiap menghadapi kontraksi ekonomi yang melaju ke arah minus pada kuartal kedua 2020. Kuartal pertama kita masih tumbuh 2,97 persen, tapi di kuartal kedua kita khawatir sudah berada di posisi minus,” kata Jokowi.

Agar bisa selamat, ia minta jajarannya untuk mengatur gas dan rem dalam menyiapkan setiap kebijakan penangan corona. “Gas dan remnya itu betul- betul diatur, jangan sampai melonggarkan tanpa kendali rem. Jangan sampai ekonomi bagus tapi (kasus tertular, red) corona naik. Bukan itu yang kita inginkan,” pinta Jokowi.

Berita Terkait : Jokowi Belum Senang

Presiden juga menyentil kinerja menterinya yang dinilainya, masih biasa-biasa saja di tengah kondisi luar biasa saat ini. Karenanya, ia mengingatkan jajarannya agar bekerja secara luar biasa dalam menghadapi dampak dari penyebaran virus corona.

“Jangan sampai situasi ini dianggap sebagai hal yang normal. Perasaan kita harus sama bahwa saat ini kondisinya sudah luar biasa. Kalau ada yang berbeda satu saja, sudah berbahaya. Jadi, tindakan, keputusan, kebijakan, suasananya harus krisis. Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja,” imbuh Jokowi.

Ia juga mengingatkan menterinya agar tidak menggunakan hal-hal standar dalam situasi krisis seperti sekarang. Bahkan, Jokowi mengaku, siap segera menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) jika memang dibutuhkan.

“Kalau perlu kebijakan perppu ya perppu saya keluarkan. Kalau perlu peraturan presiden (Perpres), ya perpres saya keluarkan. Kalau sudah ada peraturan menteri, keluarkan. Ini untuk menangani negara, tanggung jawab kepada 267 juta rakyat,” katanya.

Baca Juga : Hidayat: Jangan Ragukan Nasionalisme Orang Sumbar

Kepala negara itu merasa jengkel dengan kinerja menterinya dalam menangani pandemi virus corona. Terlebih, kasus penularan masih terus bertambah setiap harinya. Seperti diketahui, Bank Dunia memproyeksi ekonomi global minus 5,2 persen tahun ini.

Tak hanya itu, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) juga memprediksi ekonomi global bisa minus lebih dari 5 persen. Tepatnya, ekonomi dunia diproyeksi terkontraksi hingga 6 persen-7,6 persen.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan, ada beberapa strategi yang disiapkan pemerintah agar ekonomi bisa pulih dan kesehatan masyarakat bisa tetap terjaga.

“Segala bentuk penyesuaian harus dilakukan. Kegiatan produktif namun tetap aman adalah deskripsi yang tepat untuk new normal saat ini,” kata Ani, sapaan akrab Sri Mulyani.

Baca Juga : PGN Alirkan Gas Ke Lima Industri Baja Di Cilegon

Dia mengungkapkan, ada negara yang cepat tanggap dan melakukan penyesuaian dan disiplin, sehingga walaupun terdampak, mereka bisa menekan di level terbatas.

“Kalau kita rakyat Indonesia mau tetap produktif, untuk berbagai kegiatan untuk kesehatan dan perekonomian harus mengikuti protokol kesehatan yang berlaku,” ujarnya.

Menurut dia, dengan protokol kesehatan yang ketat dan dipatuhi masyarakat, Indonesia bisa melakukan pemulihan ekonomi dan kesehatan. [NOV]