RMco.id  Rakyat Merdeka - Pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo soal kalung anti-corona, jadi pergunjingan. Banyak pihak nyinyirin Mentan. Melihat ini, Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry tampil mengklarifikasi. Namun, pernyataannya malah bertolak belakang dengan Mentan. Dia bilang, kalung berbahan eucalyptus alias kayu putih itu, tidak anti-corona. Lha, menterinya ngomong begini, anak buahnya ngomong begitu.

Jumat pekan lalu, saat mengunjungi kantor Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Syahrul dan beberapa pejabat Kementan tampil dengan mengenakan kalung eucalyptus. Syahrul dengan bangga menyebut kalung yang dipakainya efektif membunuh virus corona.

"Ini antivirus hasil Balitbangtan, eucalyptus, pohon kayu putih. Dari 700 jenis, 1 yang bisa mematikan corona, hasil lab kita. Dan hasil lab ini untuk antivirus. Kita yakin. Bulan depan ini sudah dicetak, diperbanyak," kata Syahrul, saat itu.

Pernyataan Syahrul ini langsung diprotes banyak pihak. Anggota BPK Achsanul Qosasi bahkan menyindir kalung ini sebagai jimat. Eks Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengaku nggak habis pikir, apa dasar ilmiahnya kalung ini bisa disebut antivirus. Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan menyarankan Kementan fokus ngurusin ketahanan pangan, bukannya produksi kalung.

Melihat bosnya dinyinyirin banyak pihak, Fadjry melakukan klarifikasi. "Ini masih dalam skala penelitian laboratorium. Tapi memang punya potensi untuk menekan perkembangan virus," katanya, dalam konferensi pers di Kantor Balai Besar Penelitian Veteriner Kementan Cimanggu, Bogor, kemarin.

Berita Terkait : Janji Mentan Atasi Kelangkaan Pupuk Kok Belum Terlaksana

Fadjry menegaskan, kalung eucaplyptus tidak diklaim sebagai anti-corona. Kementan melihat efektivitas dari kalung tersebut hanya untuk meredakan pernapasan dan gejala corona. 

Saat ini, produk tersebut terdaftar sebagai jamu di BPOM. "Ada 3 kriteria di BPOM. Ada sebagai jamu paling bawah, di situ tidak ada klaim antivirus Corona," tegasnya. "Melegakan pernapasan, tidak ada klaim antivirus di situ" tambah Fadjry membeberkan kualitas kalung itu.

Di luar perdebatan yang ada di publik, Fadjry menilai, hasil penelitian ini sangat positif. Dia menyebutnya sebagai bentuk ikhtiar anak bangsa dalam berkontribusi terhadap negara. Apalagi, pandemi ini masih terus berlangsung. Sehingga, extraordinary harus dilakukan sesuai pesan Presiden Jokowi.

Fadjry menegaskan, tidak mengklaim berlebihan soal temuan ini. Pihaknya menerima saran dan masukan agar penelitian ini bisa bisa menyelesaikan pandemi. Jika benar-benar ingin menjadi antivirus, penelitian ini harus melalui berbagai tahapan. Salah satunya uji klinis.

"Kenapa belum uji klinis? Perlu waktu yang cukup lama. Dalam 2-3 bulan ini, kalau saya bilang sudah uji klinis, pasti bohong. Karena uji klinis paling cepat 18 bulan. Kalau mau dipercepat, 12 bulan. Rata-rata 1,5 tahun. Oleh karena itu, dunia masih berikhtiar mencari vaksin maupun obat untuk melawan corona," tuturnya.

Berita Terkait : Pandemi Tak Halangi Produsen Hasilkan Benih Buah Bermutu

Dia juga berpesan, agar pihak luar tidak hanya nyinyirin hasil penelitian Balitbangtan. Dalam kondisi seperti ini, seluruh komponen bangsa harus bersinergi untuk mencari solusi keluar dari pandemi Covid-19. Bahkan di Amerika Serikat dan Jepang, penelitian berbahan dasar eucalyptus dapat diminum sebagai antimikroba.

"Kita tidak usah berpolemik. Saya tidak ingin berpolemik. Yang salah kita luruskan. Kita sama-sama perbaiki. Saya welcome menerima semua yang harus diperbaiki. Karena bangsa besar, adalah bangsa yang mau menghargai produk anak bangsanya sendiri. Tidak ada sesuatu yang besar jika tidak dimulai dari yang kecil. Tidak ada yang sempurna tanpa melalui tahapan," imbuhnya.

Kementan berkolaborasi dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dalam pengembangan inovasi produk aromaterapi berbahan dasar tanaman eucalyptus. Tujuannya, untuk pengembangan penelitian menuju tahapan uji klinis kepada pasien yang terpapar virus.

Ketua IDI Daeng Muhammad Faqih mengatakan, riset yang dilakukan akan dilakukan secara terstruktur dengan memanfaatkan bahan-bahan alami. Menurut dia, bukan tidak mungkin Indonesia mampu membuat sebuah temuan yang menjadi obat virus corona.

"Kerja sama yang akan kita lakukan dari hasil riset pertama di laboratorium mudah-mudahan akan menghasilkan perkembangan yang positif pada tahap uji klinis. Untuk itu kami akan mensupport terus apa yang sudah dilakukan oleh Kementan dan saya rasa ini adalah langkah yang besar bagi bangsa kita," kata Daeng saat konferensi pers, kemarin.

Berita Terkait : Solar Dryer Dari Kementan Tingkatkan Nilai Tambah Produk Mangga Di Tingkat Petani

Menurut dia, apa yang dilakukan Kementan bukan hanya mencari jalan keluar untuk virus corona saja. Namun lebih dari itu upaya ini untuk mencari persoalan masalah kesehatan lainnya dengan memanfaatkan kekayaan sumber alam yang ada di Indonesia. Terlebih saat ini negara-negara di seluruh dunia tengah berjuang dalam mencari penawar virus corona.

Bagaimana tanggapan Kementerian Kesehatan? Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengaku belum mengkaji temuan Kementan ini. "Mengenai, kalung dan sebagainya, saya malah tidak, belum terlalu mempelajari isinya apa," aku Terawan, kemarin.

Meski begitu, Menkes menegaskan, sebuah obat bukan cuma tentang khasiat. Tapi juga sugesti. Misalnya, secara psikologis kalung ini bisa meningkatkan mental, yang akhirnya menaikkan imun. Sebab menurutnya, bukan cuma kesehatan fisik untuk melawan Covid-19. Mental yang kuat juga diperlukan untuk menaikkan antibodi. Terawan menegaskan, imunitas sangat penting di tengah pandemi ini. Penerapan protokol kesehatan dan olahraga, harus diperhatikan.

"Makan makanan bergizi yang cukup, istirahat yang cukup, seperti sering dikemukakan oleh kepala Gugus Tugas sebagai empat sehat lima sempurna, menerapkan protokol kesehatan, saya kira semuanya akan baik-baik saja," pungkasnya. [MEN]