RMco.id  Rakyat Merdeka - Ngopi pagi dengan Prof dr Taruna Ikrar, MPharm, MD, PhD, sungguh terasa bernutrisi. Banyak informasi dan data baru tentang penelitian vaksin dan obat-obatan, yang saat ini dipakai di banyak negara untuk menaklukan virus Covid-19.

Keahlian Taruna Ikrar tergolong langka. Dokter yang saat ini bermukim di Amerika itu, selain ahli spesialis jantung dan saraf, juga pakar obat-obatan. Sehingga, ilmunya sangat paripurna untuk membahas tentang Covid-19. Mulai dari penyakitnya, hingga obat dan penelitian vaksinnya.

Menurutnya, berperang melawan virus ini bukanlah perkara mudah. Covid-19 tergolong pandai, karena bisa berpindah-pindah di banyak bagian tubuh, untuk bertahan hidup. Bahkan, seseorang yang di tes swab dengan sampel di hidung atau tenggorokan, hasilnya negatif, tetapi diketahui virus itu ditemukan di sumsum tulang belakang, bahkan di tinja.

Berita Terkait : Kunjungi Bio Farma, MPR Yakin Vaksin Corona Sudah Bisa Diproduksi Massal Akhir Tahun Ini

Karenanya, tak heran kalau sekarang, 13 juta orang di dunia terserang virus ini.

Prof Taruna Ikrar saat ini adalah anggota Tim Peneliti Obat dan Vaksin di ASGCT (The American Society of Gene & Cell Therapy) di California.

Dalam paparannya, dikatakan, 50 persen pasien positif corona diketahui berstatus orang tanpa gejala (OTG). Sebab, saat di dalam tubuh, virus ini tak hanya menyerang gangguan pernapasan. Banyak pasien positif diserang pada sistem saraf dan pencernaan.

Berita Terkait : Bersama MUI, Erick Bakal Uji Halal Vaksin Covid Sampai ke Negeri China

"Sebelumnya tanpa gejala, tiba-tiba langsung drop. Ini yang saya bilang, virus ini pintar berpindah. Itulah kecerdasan virus dengan upaya bertahan," ujar Ikrar.

Orang tanpa gejala bisa sembuh sempurna, asalkan daya tahan tubuhnya kuat. Di kalangan militer misalnya, karena sehat dan rajin olahraga, daya tahan tubuh bagus, sehingga mereka yang terinfeksi terlihat tampak sehat. Tapi harus diingat, 50 persen yang positif tanpa gejala, dalam beberapa hari kemudian bisa muncul gejala.

"Kalau kita lawan, virus akan melemah. Tapi jika daya tahan tubuh sudah mulai menurun, virus semakin menguat dan ganti melawan, alhasil terjadilah gejala," tuturnya.
 Selanjutnya