RMco.id  Rakyat Merdeka - Berbagai negara sedang meraba-raba ramuan khusus dalam membuat vaksin Covid-19. Untuk memuluskan hal tersebut, ada negara lain yang berencana menjadikan pasien corona di Indonesia sebagai objek percobaan. Alasannya, karena Indonesia multietnik. 

Kepala Lembaga Biomolekuler Eijkman Institute Prof Amin Soebandrio menolak keras rencana ini. Dia tidak mau masyarakat Indonesia jadi kelinci percobaan. 

Berita Terkait : Di China Tahap 1, Di Sini Harusnya 2

Hal itu disampaikan Prof Amin Soebandrio saat menjadi narasumber "Ngopi Pagi" virtual Rakyat Merdeka, kemarin. Ngopi Pagi kali ini mengangkat tema "Vaksin Covid-19 Buatan Indonesia". Acara dipandu tiga wartawan senior Rakyat Merdeka: Kiki Iswara, Ratna Susilowati, dan Firsty Hestyarini.

Amin mengakui, Indonesia memang menarik bagi para pembuat vaksin. Sebab, Indonesia memiliki populasi besar dan multietnik. Ada yang darahnya mongoloid, ada yang dari eropa, ada yang negroid, dan yang lainnya.

Baca Juga : Duel Joshua Vs Fury Bangkitkan Gairah Tinju Kelas Berat

"Indonesia komplet sebagai laboratorium (percobaan). Mereka sangat mengharapkan dapat jatah dari Indonesia. Karena, kalau di Indonesia sukses, mereka bisa lebih mudah memasarkan di berbagai negara," paparnya.

Amin menjelaskan, sebagian besar produsen vaksin yang ada di luar negeri berkeinginan masuk ke Indonesia kalau barangnya sudah jadi. Negara luar hanya ingin uji klinik tanpa mengikutsertakan Indonesia dalam pengembangannya. Akhirnya, Indonesia mati kutu. "Itu saya keberatan. Kecuali kalau mereka kemudian juga memberikan transfer of technology," tegas Amin.
 Selanjutnya