RMco.id  Rakyat Merdeka - Vaksin corona buatan perusahaan China, Sinovac, bakal diuji klinis tahap ketiga di Fakultas Kedokteran Universitas Pandjajaran Bandung. Vaksin tersebut akan diuji ke 1.620 warga Bandung. Namun Amerika Serikat (AS) meragukan vaksin tersebut. 

Keraguan disampaikan pakar kesehatan terkemuka AS, Dr Anthony Fauci, dalam rapat dengar pendapat dengan Kongres AS, Jumat (31/7). Dalam rapat itu, Fauci ditanya apakah AS bisa menggunakan vaksin China atau Rusia jika kedua negara tersebut berhasil memproduksinya. 

Berita Terkait : Bamsoet: Vaksin Corona Akan Diproduksi Massal

Fauci mengaku khawatir soal keamanan vaksin corona yang sedang dikembangkan China dan Rusia itu. Jawaban Fauci tentu saja membuat peserta kongres terkejut. “Saya berharap agar China dan Rusia benar-benar menguji vaksin sebelum mereka menyuntikkan vaksinnya kepada siapa pun,” ujarnya seperti dikutip AFP, kemarin. 

Dia menilai, vaksin belum bisa diproduksi sebelum China sendiri yang melakukan uji coba terhadap warganya. “Klaim-klaim soal vaksin yang siap didistribusikan sebelum Anda melakukan uji coba, saya pikir, itu sa ngat bermasalah,” sebutnya. 

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Menurutnya, pemerintah AS harus percaya dengan kemampuan lembaganya. Apalagi selama ini dirinya telah beru paya untuk menemukan vaksin vi rus asal Wuhan itu. Dia tidak ingin Ame rika bergantung pada negara lain yang tidak berani menyuntikkan vaksin ke warganya. 

“Kita bergerak dengan sangat cepat. Saya tidak yakin akan ada vaksin selain dari AS sehingga kita akan bergan tung pada negara-negara lain untuk mendapatkan vaksin tersebut,” cetus Direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) itu. 

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Uji klinis vaksin Sinovac tahap ketiga dilakukan di Indonesia dengan menggandeng Bio Farma. Sedangkan uji klinis tahap kesatu dan kedua telah dilakukan di China. Rencananya sekitar 1.620 relawan akan ikut uji vaksin tersebut. 
 Selanjutnya