RMco.id  Rakyat Merdeka - Peneliti Indonesia yang kini menetap di Amerika Serikat (AS) Prof dr Taruna Ikrar ikut mengembangkan vaksin Covid-19. Vaksin yang dikembangkannya berbasis personalized atau yang dikenal dengan istilah dendritic cells vaccines yang mana metode ini juga kerap kali digunakan sebagai alternatif pengobatan kanker. Menurutnya, vaksin itu sudah masuk uji klinis tahap ketiga.

Metode dendritic cells ini memang memiliki perbedaan dengan varian kandidat vaksin Covid-19 lainnya. Tapi prinsipnya dalam metode ini, antibodi dikembangkan di luar tubuh penderita selama 2 hingga 3 hari. Setelah dendritic selnya berkembang maka akan disuntikan lagi kepada penderita, Alhamdulillah vaksin ini sudah masuk dalam uji klinis tahap tiga,” jelas Taruna saat menjadi pembicara diskusi webinar, Kamis (6/8).

Taruna yakin dengan makin majunya teknologi modern, vaksin Corona segera ditemukan. Diharapkannya, yang dikembangkannya ini dapat digunakan di indonesia sehingga tidak perlu impor vaksin dari luar negeri.

Berita Terkait : Bulan Ini, BUMN Mulai Suntik Vaksin Corona Ke Relawan

“Kita harus optimis bisa melewati wabah ini, toh beberapa ratus tahun sebelumnya umat manusia pernah melewati wabah penyakit infeksi seperti kolera, polio, campak dan lain-lain. Dengan upaya vaksinasi dan pengembangan herd immunity, umat manusia bisa mengeliminasi penyakit-penyakit tersebut,” imbuhnya.

Taruna menyebutkan, dalam beberapa bulan ini, sudah ada 155 kandidat vaksin yang telah dikembangkan. Dan 27 di antaranya telah dilakukan uji klinis pada manusia.

Dipaparkannya, dalam pengembangan vaksin itu, para peneliti mengembangkan sejumlah teknik. Pertama, melemahkan virus SAR COV-2. Kedua, recombinant atau protein subunits vaccine. Ketiga, plasma convalescent of Sars Cov-2-infection.

Berita Terkait : Hari Ini, Bio Farma Mulai Uji Klinis Tahap Ketiga Vaksin Covid-19

Khusus metode plasma, lanjut taruna, telah digunakan di Amerika Serikat sebagai pengobatan standar Covid-19. Keempat, vaksin berbasis personalized atau yang dikenal dengan istilah dendritic cells vaccines.

Dokter jebolan Universitas Hasanuddin ini menyampaikan dirinya berupaya membawa metode pengembangan vaksin yang dilakukannya dapat digunakan di Indonesia melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan.

Taruna menambahkan, Indonesia perlu mengembangkan vaksin sendiri. Karena kebutuhan vaksin di Indonesia besar. Selain itu, juga untuk mencegah ketergantungan dengan negara lain.

Berita Terkait : Kunci Pemulihan Ekonomi Di Tangan Vaksin Corona

Sementara, Direktur Rumah Sakit PMC Jombang dr Gali Endradita mengungkapkan, persoalan dalam mengatasi Covid-19 saat ini adalah banyak rumah sakit di indonesia belum siap sepenuhnya menghadapi pandemi. Makanya tidak mengherankan jika banyak tenaga medis yang tertular Covid-19, bahkan tidak sedikit yang meninggal. Diharapkannya, vaksin segera ditemukan.

“Saya kira perlu ada kejelasan regulasi vaksin dari pemerintah terutama yang berkaitan dengan harga vaksin. Harapannya, vaksin tidak dijadikan komoditas bisnis baru nantinya,” ungkapnya. [KAL]