RMco.id  Rakyat Merdeka - Lebih dari satu abad usia Samik Ibrahim, bila dihitung mundur, sejak dilahirkan pada 8 Agustus 1908. Samik, demikian panggilan akrabnya, dilahirkan di Nyiur Gading, Koto Baru Kambang Afdeling Bandar Sepuluh Kerinci, kini disebut Kabupaten Pesisir Selatan.

Semasa hidupnya, Samik dikenal sebagai penggerak simpul Muhammadiyah di Selatan Pantai Barat Sumatra, saudagar Koperasi Oentoek Pemajukan Anak Negeri (KOPAN) yang berlokus di Pasar Batipuh Padang, dan membidani lahirnya Angkatan Laut di Kota Padang.

Samik terlahir dari pasangan Chatib Ibrahim dan Siti Sanafiah. Ia dibesarkan dalam kultur Tarekat Naqsyabandiyah yang kental. Sejak lulus dari Schkakel School, ia tidak tertarik melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Samik malah mengambil kursus guru–dengan harapan mendidik anak-anak di kampung halamannya.

Sejak mengenal dan bersentuhan dengan Muhammmadiyah, nilai-nilai amar makruf nahi munkar menjadi sebab-sebab tidak gentarnya Samik, dalam memperjuangkan kebenaran. Doktrin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, mendorong Samik menyebarluaskan pesan-pesan Muhammadiyah di tanah kelahirannya. Ia pun siap menanggung risiko yang menghadang di depan matanya.

Baca Juga : Selangkah Lagi, Ibra Duet Dengan Mario Mandzukic

Beberapa kali usahanya merintis groep Muhammadiyah di Pesisir Selatan, mengalami rintangan besar. Bukan sekadar cemoohan saja yang diterima. Samik kerap diusir tahun 1933, bahkan meringkuk di penjara Painan (1930), karena menyebar “paham keagamaan” yang mengancam eksistensi tarekat itu sendiri. Namun, ia bergeming.

Pasca diusir dari Sungai Penuh Kerinci tahun 1937, Samik memutuskan memboyong istri dan anaknya ke Kotapraja Padang. Ia bahagia menyebar benih Islam berkemajuan dan menjalani kembali rutinitasnya selaku guru di HIS Muhammadiyah (1936), Normal School Muhammadiyah (1936), dan MULO -Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, Sekolah Menengah Pertama pada zaman pemerintah kolonial Belanda di Indonesia- Padang (1937).

Dunia bisnis dan ekonomi kerakyatan, mulai dirintisnya memasuki tahun 1938. Bersama 12 orang tokoh-tokoh Muhammadiyah di Lakitan dan Bandar Sepuluh, Samik mendirikan KOPAN dan Persatuan Bandar Sepuluh (PERBAS). Kedua perusahaan inilah, yang memberi andil peningkatan taraf kehidupan Samik Ibrahim dan keluarganya.

Memasuki masa awal kemerdekaan hingga situasi darurat pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada periode 22 Desember 1948 - 13 Juli 1949, Samik makin berkibar namanya. Namanya kian dikenal setelah membesarnya KOPAN di bawah koordinasinya, termasuk aktivitasnya di Majelis Ekonomi Muhammadiyah Perwakilan Sumatra Tengah.

Baca Juga : Arsenal Vs Newcastle United, Misi Menembus 10 Besar

Bersama Sidi Mhd. Ilyas, ia merintis N.V GAPEKA (1947), Bank Muslimin Indonesia (1951), dan N.V Karbit Indonesia (1957). Keberhasilannya membesarkan Majelis Ekonomi Sumatra Tengah, membuatnya “terpelanting” menjadi Ketua Muhammadiyah Daerah Padang tahun 1958.

Sumbangsih Samik untuk negara pun tidak bisa dipandang remeh. Sejak awal kemerdekaan, Samik yang tergabung dalam Persatuan Saudagar Indonesia (PERSDI) terlibat dalam usaha menyebar berita proklamasi di Padang dan Bandar Sepuluh hingga ke Sungai Penuh Kerinci (1945), dan anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumatra Barat (1945-1946).

Samik juga ikut membidani lahirnya Tentara Keamanan Rakyat Angkatan Laut (TKR AL) di Padang pada September 1945. Tak sekadar merintis, Samik turut menyediakan penginapan untuk tentara TKR AL di Pasar Gadang, serta mencukupi kebutuhan logistik selama dua bulan mereka, guna latihan perang di Padang.

Pada masa jelang PDRI pun Samik memberi pinjaman yang besar pada Divisi IX Banteng. Pinjaman itu senilai Rp 4.075.080.50 –yang sampai hari ini hanya dibayar Rp 5.000.

Baca Juga : Di Tengah Hujan, Jokowi Tinjau Lokasi Banjir Di Kabupaten Banjar

Pada masa PDRI, Samik aktif menggalang pemuda revolusioner dan kaum republiken di Kota Bukittinggi, untuk menggagalkan ide pembentukan kembali Negara Minangkabau oleh The Netherlands Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.

Samik, satu dari sekian saudagar Minang, yang membaktikan hidupnya pada usaha mempertahankan kemerdekaan, dan membumikan pesan-pesan Islam Berkemajuan lewat aktifitas semasa hidupnya, itu wafat di Mekah pada 24 November 1978, dalam usia 70 tahun. (*)

[Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati dan Periset Sejarah Lokal Sumatra Barat, dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh, mantan wartawan Rakyat Merdeka, Jakarta.]