RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam menjadikan pendidikan Islam yang unggul dan kompetitif diperlukan langkah strategis melalui Program Ihsan (Integritas, Humanis, Spritualitas, Adaptasi, Nasionalisme). Demikian disampaikan Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama (Kemenag), Prof Muhammad Ali Ramdhani dalam acara Pelantikan dan Pembinaan Pegawai di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, di Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG), Kampus II, Jumat (28/8).

Ali Ramdhani menjelaskan, dalam Program Ihsan, ada nilai-nilai religius yang kemudian diturunkan pada ruang-ruang yang lebih operasional. Pertama, integritas. “Pendidikan Islam itu harus menghasilkan seseorang yang memiliki integritas tinggi yang memiliki karakteristik baik, perilaku yang memahami tentang etika, norma, dan lain sebagainya. Ia adalah anak atau produk dari sebuah lembaga pendidikan yang betul-betul memiliki karakter yang mulia," jelas Ali Ramdhani, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (29/8).

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Kedua, humanis. Ali Ramdhani menerangkan, saat ini banyak bentuk bully yang terjadi di ruang-ruang peradaban. Dalam pendidikan, nilai-nilai kemanusiaan ini kadang seperti tidak penting. 

“Padahal, humanity itu poros kita dalam membangun peradaban dengan cara-cara yang baik. Tumbuh kembang dari dinamika psikologi harus kita tetapkan. Tidak kemudian kita melihat anak-anak kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah sudah menggendong tas yang luas biasa beratnya, mana sisi kemanusiaan kita, mana ruang bermain mereka dan itu menjadi perhatian kita dalam melakukan sebuah proses pembelajaran itu harus mengikuti nilai-nilai kemanusiaan," jelasnya. 

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Ketiga, spritualitas. Dia menekankan, melakukan sesuatu harus bersumber dari hukum Tuhan. Produk dari pendidikan Islam adalah menyadarkan bahwa manusia adalah hamba Sang Maha Pencipta.

Keempat, adaptasi. Dia menerangkan, ketika kita berusaha menyandarkan pada dinamika kekinian, banyak pola-pola pendidikan Islam terlalu bermemori pada zaman keemasan, berputar-putar pada sejarah masa lalu. 

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

"Padahal, hidup bukan pada masa lalu, tetapi hidup akan menghabiskan masa yang akan datang. Maka, selanjutnya sebagai bagian dari ikhtiar untuk melahirkan insan-insan yang menjadi pemilik pada zamannya," paparnya.   

Kelima, nasionalisme. Ali Ramdhani menekankan, nilai-nilai nasionalisme ini harus terus ditamankan. "Apa pun bentuk pendidikan kita, harus mampu melahirkan nasionalisme yang tinggi. NKRI harga mati," tandasnya. [USU]