RMco.id  Rakyat Merdeka - Identitas penusuk Syekh Ali Jaber, memang sudah diketahui, sudah ditahan juga. Namanya Alfin Andrian. Umurnya 24 tahun. Tapi, apa motif si tersangka, belum diketahui. Siapa sebenarnya si tersangka, masih simpang siur.

Dibilang orang gila, banyak yang nggak percaya. Dicek-cek ke jaringan teroris, dia bukan teroris. Lalu, siapakah orang ini? Kita tunggu saja keterangan Polisi. Yang pasti, kalau lihat-lihat ke masa lalu, hanya PKI dan orang gila saja yang tega mau membunuh ulama.

Setelah Menko Polhukam Mahfud MD, kemarin, giliran Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko dan Wakil Ketua MPR Zulkifli Hasan yang menjenguk Ali Jaber di kediaman Ali Jaber, di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur.

Didampingi Deputi V KSP Jaleswari Pramodhawardhani, Moeldoko menyebut, menjenguk kerabat yang sakit adalah salah satu anjuran Rasulullah sebagai amal mulia.

Dia pun menyampaikan simpatinya atas penusukan yang menimpa Ali Jaber. “Pemerintah mengecam keras aksi penusukan dan tindak kekerasan terhadap ulama,” tegasnya.

Moeldoko berujar, aparat keamanan sedang bekerja untuk mengungkap dan menuntaskan kasus ini secara transparan, sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. “Ini bukan kriminalisasi ulama. Syekh Ali Jaber adalah korban,” tutur eks Panglima TNI itu.

Dalam pertemuan itu, Ali Jaber menjelaskan, saat ini kondisinya telah membaik. Dia meyakini, Polisi akan mengusut tuntas masalah ini. Ali Jaber pun meminta insiden penusukannya tidak dikaitkan dengan unsur-unsur politik.

Baca Juga : Lokomotiv Plovdiv vs Tottenham, Keok Berarti Selamat Tinggal

Dia juga meminta masyarakat memberikan kepercayaan kepada pemerintah. “Jangan ada umat Islam yang mau diadu domba karena kejadian ini,” imbaunya.

Kepada Moeldoko, Ali Jaber menitipkan pesan untuk Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana. Ali Jaber mendoakan kesehatan bagi Jokowi dan Iriana sehingga dapat terus memimpin Indonesia melewati pandemi Covid-19.

Zulkifli Hasan juga menjenguk Ali Jaber. Selain mendoakan kesembuhan Ali Jaber, Ketum PAN ini nggak yakin si pelaku ini orang gila. Zulkifli yakin, si pelaku sudah terencana melakukan penusukan ini.

Sama seperti Moeldoko dan Mahfud, Zulkifli mendesak Polri segera menuntaskan kasus ini. Lalu seperti apa perkembangannya?

Mabes Polri mengaku, sudah mengirim dokter dan psikiater dari Pusdokkes Polri untuk membantu penyidikan kasus yang ditangani Polda Lampung dan Polresta Bandar Lampung itu.

Hasil pemeriksaan sementara, tersangka disebut mengalami halusinasi visual terhadap Ali Jaber. Namun, polisi terus melakukan pendalaman.

Motif pelaku melakukan penusukan masih dinilai tidak logis. Saat ini, Alfin sudah menyandang status tersangka. Polisi menjerat Alfin dengan pasal berlapis: penganiayaan berat yang tercantum dalam KUHP dan larangan membawa senjata tajam yang diatur Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Baca Juga : Sabina Altynbekova, Anggun Kenakan Gaun Panjang

“Ancaman penjara sepuluh tahun,” tegas Karopenmas Polri, Brigjen Awi Setiyono, kemarin.

Tak hanya Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ikut menelisik kasus penusukan ini. Menurut Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar, penusuk Ali Jaber disebut mengalami gangguan jiwa sejak lima tahun lalu.

Selain berdasarkan pengakuan keluarga dan orang-orang di lingkungan tempat tinggal Alfin, hal itu juga pernah dibuktikan lewat hasil pemeriksaan rumah sakit Kemiling, Lampung, pada 2016.

Tetapi, Boy tidak langsung mempercayai informasi itu. Pemeriksaan psikologi dan psikiatri akan dilakukan untuk mendalaminya.

“Apakah yang bersangkutan benar-benar gila atau pura-pura gila,” ujar Boy, saat rapat dengan Komisi III DPR, kemarin.

Selain itu, kata Boy, BNPT bersama aparat penegak hukum tengah menelusuri dugaan Alfian terafiliasi dengan kelompok atau jaringan terorisme tertentu.

“Sejak peristiwa penusukan itu, kita juga melakukan profiling terhadap pelaku, dari hasil pendalaman kita sampai siang ini, sementara tidak melihat adanya indikasi pelaku terkait jaringan teror,” tegas Boy.

Baca Juga : Nggak Kapok Berdagang

Terpisah, Wasekjen MUI, Amirsyah Tambunan juga meminta Polisi tak langsung mengambil kesimpulan pelaku adalah orang gila. Butuh pemeriksaan mendalam dari ahli untuk mengetahuinya.

Amirsyah sendiri meyakini, ada dalang di balik peristiwa ini. “Kalau pelakunya gila, maka pasti semuanya telah disiapkan oleh yang waras. Kalau dia yang menyiapkan berbagai halnya, itu sudah pasti tidak gila,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Amirsyah juga menilai si pelaku pasti dari gerakan anti Pancasila. “Dia biadab, tidak beradab,” imbuhnya. Ketum PA 212, Slamet Maarif menyebut, aksi penyerangan itu seperti cara dan gaya PKI. FPI juga berpendapat serupa.

“Modus pembunuhan para ustaz dan ulama ini biasa dilakukan oleh golongan komunis,” ujar Sekretaris Umum FPI, Munarman, kemarin.

Ustad Tengku Zulkarnain pun menduga begitu. “Apakah penikaman Ulama dan pembunuhan Imam, adalah gerakan Komunis yang selama ini tertekan? Mereka mau memberi signal pada dunia bahwa walau ditekan dengan TAP MPRS dan Undang Undang, mereka masih EKSIS... Pahamkan,” cuitnya lewat akun @ustadtengkuzul.

Cuitan ini pun ramai dikomentari warganet. “Cuma PKI yang tega bunuh ulama, seperti pada masa lalu,” cuit @ Tetapkucari. [OKT]