RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah sekian lama tampil kalem, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kumat lagi. Dia kembali ke karakter aslinya: doyan marah-marah, nyerang sana, nyerang sini. Hal itu, nampak saat dia tak segan membuka borok Pertamina, yang merupakan "dapurnya" sendiri.

Marah-marahnya Ahok ini dituangkan dalam video berdurasi 6 menit 39 detik, yang diunggah di kanal YouTube POIN, Senin (14/9). "Ketika Ahok Bongkar Bobroknya Perusahaan BUMN," begitu bunyi kalimat pembuka video tersebut.

Video ini sebenarnya tidak utuh semua pernyataan Ahok. Ada potongan-potongan saat Ahok masuk Istana, saat dilantik, saat rapat dengan jajaran direksi Pertamina, saat mengecek kilang, dan lainnya. Ada juga potongan video Menteri BUMN Erick Thohir saat rapat di DPR. Di dalamnya juga diselingi ucapan narator. 

Saat memberikan pernyataan, Ahok sepertinya sedang diwawancarai lewat video konferensi. Mantan Gubernur DKI ini tampil gagah dan rapi. Ia mengenakan setelan kemeja lengan panjang biru dongker. 

Berita Terkait : What`s Up Ahok?

Saat bicara, sesekali wajah Ahok terlihat memerah. Tegang. Ketika nada bicaranya naik, urat lehernya menonjol dan matanya melotot. Emosional dan meledak-ledak. Persis seperti karakter Ahok saat masih jadi gubernur.

"Saya ini eksekutor, bukan pengawas sebenarnya," ucap Ahok, menerangkan jabatan Komisaris Utama Pertamina yang diembannya saat ini. Di sesi ini, nada bicaranya masih santai.

Bicaranya mulai pedas ketika mengibaratkan jabatannya dengan neraka yang sudah lewat, tapi surga belum masuk. Sebab, semua keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam menentukan Key Performance Indicators (KPI) atau penilaian kinerja, dilakukan di Kementerian BUMN. Baik untuk menilai kinerja dewan komisaris maupun direksi.

Level kepedasannya naik ketika berujar agar Kementerian BUMN dibubarkan saja. Diganti menjadi Indonesia Incorporation, semacam Temasek di Singapura. Jika tidak, posisi Komut di BUMN tidak akan dihargai. "Dia (direksi Pertamina) ganti direktur pun bisa tanpa kasih tahu saya. Saya sempat marah-marah juga," akunya.

Berita Terkait : Ahok Bisa Bernapas Panjang

Kondisi seperti ini membuat direksi-direksi bermain aman. Semua direksi, sebutnya, melakukan lobi-lobi ke menteri. "Karena yang menentukan menteri. Komisaris pun rata-rata titipan kementerian-kementerian," sambung Ahok, dengan senyum kecutnya.

Ahok lalu memamerkan salah satu gebrakannya di Pertamina: memotong jalur birokrasi kenaikan pangkat. Jika sebelumnya untuk mencapai level SVP atau Senior Vice President, karyawan harus bekerja hingga 20 tahun, kini dipotong menjadi lelang terbuka.

Ahok lalu membuka borok anak perusahaan Pertamina. Di sana, gaji pokok dibikin besar-besar. Bahkan, ia mencontohkan salah seorang direktur utama yang sudah dicopot masih menikmati gaji yang sama besarnya dengan sebelum dicopot. "Misal gaji Rp 100 juta lebih. Masa (setelah) dicopot gaji masih sama? Alasannya dia sudah orang lama. Harusnya gaji mengikuti jabatan Anda," kesalnya.

Kegeramannya tak sampai di anak perusahaan, tapi juga menjalar ke sesama perusahaan BUMN lain: Perum Peruri. Gara-garanya, perusahaan percetakan uang itu minta dana sebesar Rp 500 miliar untuk proses paperless di Pertamina. Agar tanda-tangan bisa dilakukan secara digital. 

Baca Juga : Ali Jaber Sudah Dakwah Lagi

Ahok pun mengatai Peruri seperti ular piton, yang mau makan banyak setelah itu tidur panjang dan tidak kerja-kerja. "Nggak mau kerja lagi, tidur 10 tahun," sentilnya.

Emosi Ahok belum mereda. Dia kemudian menyoal investor yang didiemin. Penawarannya ditolak. "Saya emosi juga kemarin. Mereka mau mancing saya emosi. Nanti saya emosi laporin ke Presiden apa? Ahok mengganggu keharmonisan," ucap Ahok, dengan mode emosi slow motion.

Dia juga mengkritik Pertamina yang doyan ngutang. Kata Ahok, utang perusahaan minyak pelat merah itu sudah menembus 16 miliar dolar AS atau setara Rp 237,1 triliun. Alasannya, untuk akuisisi. “Dia tidak berpikir untuk eksplorasi," kesalnya.

Padahal, menurut Ahok, Indonesia punya 12 cekungan yang berpotensi menghasilkan minyak dan gas. "Lu ngapain di luar negeri gitu lho? Ini jangan-jangan, saya pikir ada komisi lagi nih beli-beli minyak ini," ucap Ahok, penuh curiga.
 Selanjutnya