RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta terus mengurus pencairan dana mereka di Grha Surya, Setiabudi, Jakarta Selatan. 

Seperti yang nampak pada Senin (21/9), puluhan anggota lanjut usia (lansia) berdatangan untuk mengurus dana mereka. Pencairan berjalan sejak awal September.

Misalnya saja, Dyana Shanti (80) warga Kramat, Senen, Jakarta Pusat. Anggota KSP Indosurya ini berharap proses pengembalian dana berjalan terus, lancar. Dia juga berharap koperasi bisa berjalan kembali normal.

“Jadi, Indosurya bisa mulai maju, jika perekonomian dan saham pulih lagi, siapa tahu kita bisa naruh (dana) lagi,” ujar Dyana yang mengaku mencairkan dananya sebanyak Rp 400 juta, diangsur selama 36 bulan.

Dyana menjelaskan, dana itu akan digunakan untuk biaya hidup sehari-hari dan kontrol kesehatan. Pasalnya, dia pernah ditabrak mobil sehingga tulang pinggang tergeser, dan untuk operasi kaki kanan. 

Berita Terkait : Selama September, 1.150 Anggota KSP Indosurya Sudah Cairkan Dana

“Pencairan ini sangat membantu untuk perawatan kesehatan saya,” kata dia. 

Lidia, anggota KSP Indosurya, warga Jakarta Barat, mengaku mencairkan dananya yang tidak sampai Rp 250 juta. 

“Sudah ada pembayaran untuk cicilan pertama. Kita harus lihat kan maksimal 24 bulan. Karena saya sudah merasakan yang pertama. Saya berpikir positif saja. Saya harap mereka bisa melanjutkan hingga tuntas,” harapnya.

Dia juga mendukung berlanjutnya KSP beroperasi normal. Lidia  berharap pengurus KSP Indosurya bisa kembali mengembalikan kepercayaan anggota, dan juga masyarakat dengan memenuhi perjanjian damai. 

Pengurus KSP Indosurya Cipta, Sonia mengatakan, hingga saat ini sudah sekitar 750 orang anggota yang melakukan pencairan dana. Ia menegaskan, saat ini tidak ada masalah dalam pengurusan dana anggota.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Menurutnya, pencairan sesuai tanggal jatuh tempo yang berbeda-beda sesuai dengan jumlah dana yang dimiliki anggota koperasi. Untuk pemilik dana di bawah Rp 500 juta, pencairan paling lama 3 tahun.

Sonia menjelaskan, jika anggota meninggal maka pengurus KSP membutuhkan dokumen legalitas yang menyatakan ahli waris yang berhak mendapatkannya. 

Sementara, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan menanggapi positif langkah homologasi antara pengurus koperasi dan anggota KSP Indosurya.

Menurutnya, perdamaian dan pelunasan perjanjan adalah langkah yang harus ditempuh. 

“Seyogyanya memang harus seperti itu. Koperasi adalah milik anggota, jadi nggak boleh merugikan anggota. Koperasi harus bertanggung jawab, ada proses tabayyun, saling komunikasi, adalah solusi yang terbaik,” ujarnya saat dihubungi Senin (21/9).

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Dia mengatakan, hal berbeda jika ada moral hazard, atau ada kejahatan di dalamnya. Maka para anggota bisa menempuh proses hukum. Namun, jika ada keputusan yang terkait pandemi, misalnya, anggota dan pengurus bisa berembug dan saling memahami.

“Saya kira anggota juga harus memahami kondisi yang dihadapi koperasi, bisa diselesaikan dengan mekanisme-mekanisme yang ada,” tuturnya. 

Dia berharap ke depannya masyarakat Indonesia tidak jera atau kapok dengan koperasi. Sebab, lanjut Rully, koperasi adalah bagian dari upaya memecahkan masalah sendiri oleh masyarakat.

Dia menegaskan, koperasi adalah instrumen  memperbaiki kehidupan. Jadi masyarakat tidak akan kapok, kalau memang masyarakat hidup bersama mendapatkan nilai tambah yang lebih bagus, 

“Kalau bicara risiko-risiko, seluruh usaha pasti ada resiko. Tapi kalau masalah bisa diselesaikan bersama, ya memang sudah semestinya Koperasi seperti itu,” kata Rully. [REN]