RMco.id  Rakyat Merdeka - Gatot Nurmantyo lagi-lagi berusaha menghidupkan “hantu” PKI. Yang terbaru, dia merasa dicopot dari jabatan Panglima TNI akhir 2017 karena mewajibkan personel korps baju loreng nobar film G30S/PKI. Wah, Gatot lagi mancing emosi nih...
 
Gatot mengeluarkan pernyataan itu dalam video yang diunggah channel YouTube Hersubeno Point. Gatot, yang diwawancarai via video ponsel, menyatakan, sudah mengendus kebangkitan PKI gaya baru sejak 2008. Menurutnya, gerakan ini tidak bisa dilihat bentuknya, tetapi bisa dirasakan. 
 
Gatot menyebut, sudah melihat indikasi kebangkitan PKI dari sejumlah fenomena. Di antaranya, dihapuskannya pelajaran sejarah G30S/PKI di tiap tingkatan sekolah. 

Baca Juga : Hari Ini Jasa Marga Dan HK Sesuaikan Tarif Tol

"Ini sesuatu hal yang sangat berbahaya, karena kalau yang paling junior adalah kelas enam SD (pada 2008), maka mereka yang duduk di universitas saat ini mereka tidak pernah mengenyam pelajaran tersebut," ucapnya. 
 
Sejak saat itu, Gatot mengaku sudah mendapat banyak informasi. Namun, dia tidak langsung membukanya secara terang benderang. Gatot berupaya membungkus semua gerakan itu dengan proxy war. "Karena (saat itu) belum saatnya saya membuka gerakan mereka," ucap Gatot. 
 
Sejak itu juga, Gatot rajin mengisi kuliah umum di kampus dan selalu menyelipkan bahaya kebangkitan komunisme. Dimulai di UI pada 10 Maret 2014 sampai jadi Panglima TNI, dia sudah mengisi kuliah umum sampai 59 kali. Gatot menemukan fakta, pada 2017, 90 persen generasi muda tidak percaya adanya PKI. Karena itulah, saat menjadi Panglima TNI, ia memutuskan memerintahkan jajarannya menonton film Pemberontakan G-30S/PKI pada 2017. 
 
Saat mengeluarkan instruksi itu, Gatot mengaku didatangi sahabatnya, seorang kader PDIP. Gatot disarankannya agar tidak menyerukan nonton film besutan Arifin C Noer itu. Kalau tidak, kata orang PDIP itu, Gatot bisa dicopot dari jabatannya. Tapi dia nekat saja. "Saya gas, karena ini benar-benar berbahaya. Dan, benar-benar saya diganti," ungkapnya. 
 
Gatot kemudian menyebut, kebangkitan PKI juga ditunjukkan dengan munculnya RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). RUU itu, disebut Gatot, hendak mengubah Pasal 29 UUD 1945 yang menyatakan dasar negara Indonesia Berketuhanan Yang Maha Esa menjadi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. "Ini adalah manifesto yang disampaikan oleh DN Aidit pada tahun 1963," ucap Gatot merujuk Ketua Umum PKI itu. "Kalau Pancasila diganti, berarti akan mengubah negara ini. Siapa lagi, itu adalah PKI," imbuhnya. 
 
Yang bikin curiga, kata Gatot, RUU itu hanya ditunda pembahasannya, bukan dihentikan. Inilah yang mendasari Gatot bergabung ke Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).
 
Pihak Istana membantah pernyataan Gatot itu. Tenaga Ahli Kedeputian Kantor Staf Presiden (KSP), Donny Gahral Adian menyatakan, tidak ada dasar kuat untuk bisa membenarkan yang dituduhkan Gatot. "Semua tuduhan itu tidak berdasar, halusinatif, dan terlalu kebablasan," tegasnya, kemarin. 
 
Donny menyatakan, Gatot diganti karena masa jabatannya sudah selesai. Tidak terkait dengan perintahnya agar prajurit TNI menonton film G30S/PKI. "Tidak ada hubungan sama sekali. Itu hubungan dibuat-buat," imbuhnya. 
 Selanjutnya