RMco.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak menerima alasan Ketua KPK Firli Bahuri yang menggunakan helikopter dari Palembang-Baturaja, dan Palembang-Jakarta dengan alasan efisiensi.

Anggota Majelis Etik Albertina Ho mengungkap, kronologis masalah bermula saat Firli berencana nyekar ke makam keluarganya di Baturaja, Sumatera Selatan.

Berita Terkait : Tak Terbukti, Dugaan Gratifikasi Dalam Sewa Helikopter Firli

Ia sudah lama merencanakan itu. Namun, dia tidak menyiapkan tiket pulang. Hal ini diketahui dari kesaksian Kevin, ajudan Firli yang ikut dalam perjalanan ke Palembang-Baturaja-Palembang-Jakarta pada Sabtu (20/6) sampai Minggu (21/6).

"Seharusnya, terperiksa dengan segera mengantisipasi dan melakukan perjalanan ke Baturaja. Tapi, yang dilakukan terperiksa adalah memberitahu saksi 2 (Kevin) dan mengatakan ada penyewaan helikopter dan dijawab akan dicari tahu," ujar Albertina, Rabu (24/9).

Berita Terkait : Sidang Etik Kasus Helikopter, Ketua KPK Dinyatakan Bersalah

Meski secara eksplisit Firli mengatakan tidak menyuruh Kevin mencari penyewaan helikopter, tapi sebagai ajudan, dia tanggap dengan mengatakan 'Baik Pak, saya akan mencari tahu'.

"Terperiksa lalu menyetujui untuk menggunakan helikopter dari Palembang ke desa Lontar, Baturaja. Dan dari Baturaja ke Palembang," ungkapnya.

Berita Terkait : Anak Buah Duluan, Sidang Etik Firli Digelar Belakangan

Firli yang sudah tiba di Palembang usai nyekar di Baturaja, baru menanyakan rencana pulang pada Kevin pada Sabtu (20/6) malam, usai makan malam. Kevin menjawab, sulit mencari tiket ke Jakarta.

"Menanggapi itu terperiksa mengatakan 'coba dicari dulu'. Setelah itu, terperiksa bertanya 'di mana heli menginap dan apakah bisa kalau kita tidak ada tiket menyewa heli itu untuk ke Jakarta'," beber Albertina.
 Selanjutnya