RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengamat intelijen Suhendra Hadikuntono mensinyalir ada gerakan yang sengaja terus ngerecokin kerja Presiden Jokowi. Tujuannya, untuk merusak citra pemerintah di mata masyarakat. Dia menyebut, satu per satu tanda-tanda gerakan itu mulai muncul ke permukaan.

"Gerakan ini nyata adanya. Kita semua tidak boleh tutup mata dan mengatakan semua baik-baik saja. Gerakan ini memakai isu komunisme hingga Covid-19. Bahkan tak segan-segan menyebarkan hoaks apa pun di masyarakat. Supaya membuat kisruh dan benci terhadap pemerintah. Saya sudah ingatkan ini empat bulan lalu," ujarnya, di Jakarta, Jumat (2/10).

Berita Terkait : Sabam Sirait: Jadi Orang Pertama Divaksin Bukti Jokowi Mau Lindungi Rakyat

Suhendra mencontohkan kejadian di media sosial dan dunia nyata. Kata dia, sering dijumpai ujaran kebencian ke pemerintah. Padahal, saat ini Indonesia tengah berjuang mengendalikan pandemi Covid-19. "Tapi masih saja ada tokoh yang keliling ke daerah-daerah menyebarkan virus kebencian," ucapnya, tanpa menyebut nama.

Dia berpesan, gerakan yang ingin ngerecokin pemerintahan Jokowi merupakan sinyal yang harus diantisipasi. Sebab itu, harus ada upaya preventif dalam menjaga NKRI dari gejolak politik dan perpecahan. Suhendra yakin, Presiden sudah tahu, dan tidak akan tinggal diam.

Berita Terkait : Masih Nolak Vaksin Covid? Norak Deh...

Sebelumnya, Suhendra sempat memprediksi ada gerakan yang puncaknya dilakukan bulan ini, atau setahun periode kedua Jokowi. Dia mengendus ada gelagat tak sedap dari kompetitor politik eks Gubernur DKI itu. Padahal, awalnya seorang kawan, namun tengah menggalang kekuatan untuk ngerecokin Jokowi.

Suhendra mengatakan, saat ini, kelompok yang ingin ngerecokin Jokowi tengah menunggu waktu yang tepat. Misalnya, situasi yang tak menentu akibat pandemi Covid-19 yang berujung pada ancaman krisis ekonomi dan sosial.

Berita Terkait : Siaran Langsung, Ini Link YouTube Jokowi Disuntik Vaksin Covid

Hingga 20 Oktober nanti, Suhendra memprediksi, isu komunisme, radikalisme, dan kebijakan Presiden akan terus dihembuskan. Berbarengan dengan isu Covid-19 dan ancaman krisis ekonomi. "Ibaratnya, mereka sudah siap dengan bensin di tangan. Tinggal menunggu munculnya percikan api," katanya. [MEN]