RMco.id  Rakyat Merdeka - Hari ini, TNI berusia 75 tahun. Namun, perayaan HUTTNI tahun ini berbeda dengan tahuntahun sebelumnya. Sebab, HUT TNI tahun ini berlangsung di tengah kondisi negara yang masih berjuang menghadapi pandemi Covid-19.

Menurut pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati, sejak Maret lalu, TNI juga turut terlibat berusaha memutus rantai penularan virus ini.

Yakni bahu membahu bersama kementerian dan instansi pemerintah yang lain, serta seluruh komponen bangsa. TNI, lanjutnya, dituntut mampu merespons bencana non alam ini secara terukur dan sistematis.

Berita Terkait : HUT ke-75, TNI Diminta Kuasai Senjata Biologi

Doktor jebolan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran, Bandung ini menjelaskan, pengalaman TNI selama beberapa tahun terakhir menghadapi bencana alam, kini diproyeksikan menghadapi bencana non alam.

Nuning -sapaan akrab Susaningtyas- menerangkan, Operasi Militer Selain Perang (OMSP) menghadapi bencana non alam saat wabah Covid-19 merupakan pelajaran berharga.

Terutama mengantisipasi terulangnya kembali pandemi di kemudian hari. Dari Perspektif Sistem Pertahanan Negara, OMSP menghadapi Pandemi Covid-19 menurutnya juga dapat diterapkan menghadapi ancaman senjata biologis.

Berita Terkait : HUT Ke-75 KAI, Jokowi: Kereta Api Transportasi Pilihan Rakyat

“Dengan parameter dan indikator yang sama, kemampuan TNI menghadapi ancaman senjata biologis juga bisa diimplementasikan untuk menghadapi Senjata Pemusnah Massal (Weapon of Mass Destruction) lainnya.

Ancaman senjata nuklir, senjata kimia, dan senjata radiasi juga memiliki skala tinggi dideteksi dan ditangkal,” terang mantan anggota Komisi I DPR ini.

Melalui peringatan HUT ke75 ini, tambah Nuning, TNI diharapkan segera meningkatkan kemampuan dan persenjataannya untuk menghadapi ancaman Chemical, Biology, Radiation, and Nuclear (CBRN).

Berita Terkait : GM FKPPI Siap Jadi OKP yang Andalkan Otak

Dia juga mengingatkan, wabah Covid-19 merupakan ancaman nirmiliter. Hal ini berbeda dengan ancaman militer dan ancaman non militer. Ketiganya kini dikenal sebagai ancaman hybrida dan telah mengubah perspektif ancaman di masa mendatang.

Nuning menambahkan, senjata biologis dan pertahanan negara anti senjata biologis merupakan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai TNI.

Apalagi, melihat semakin luasnya ancaman, dalam kurun waktu ke depan TNI membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya, sebagai bagian modernisasi alat utama sistem pertahanan (Alutsista). Sehingga dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang andal. [USU]