RMco.id  Rakyat Merdeka - Bagi sebagian mereka yang mengagungkan paradigma positivistik dan materialistik di mana kehidupan itu nyata, berwujud dan bersifat bendawi adalah hal yang penting. Sehingga, hal di luar itu semua, akan tertolak atau tidak penting.

Demikian pula halnya, pendidikan atau pembelajaran sejarah yang kurang kongkrit atau tidak kasat mata output-nya bagi peserta didik. Akhirnya, pendidikan dan pembelajaran sejarah sedikit terabaikan. Karena pendidikan kita sepertinya terjebak pada hal-hal yang materialistik. Keterampilan teknis, dianggap lebih penting daripada ketrampilan non teknis, seperti misalnya kemampuan empati, kepedulian, semangat berkorban untuk sesama, bermanfaat untuk sesama dan lainnya.

Baca Juga : Cegah Corona, Pengusaha Minta Buruh Tak Mogok

Padahal, pendidikan dan pembelajaran sejarah sesungguhnya adalah tentang memaknai para tokoh dan peristiwa-peristiwa di masa lalu itu. Makna ini, sesungguhnya pula, akan memberikan pengayaan pada karakter peserta didik kita. Mohammad Hatta dalam buku Pengantar ke Djalan Ilmu dan Pengetahuan (1960) mendefinisikan sejarah berikut ini:

“Sedjarah wujudnya memberi pengertian dari masa lalu... ia menggambarkan di muka kita suatu ideal tipe, bentuk rupa dari pada masa itu, bukan gambaran yang sebenar-benarnya, tetapi gambaran yang dimudahkan, supaya kita mengenal rupanya... ia bukan melahirkan ceritra dari pada kejadian yang lalu, tetapi memberikan pengertian tentang suatu kejadian atau satu masa lalu dengan mengemukakan kedjadian itu”. (R. Moh. Ali 2005;36).

Baca Juga : Dihajar Spurs, Luke : Ini Sangat Menyakitkan

Sejarah itu tentang makna dari tokoh dan peristiwa. Bukan deretan nama tokoh, tanggal dan peristiwa belaka. Karena tokoh dan peristiwa memiliki makna yang dapat menjadi pembelajaran bagi generasi selanjutnya, termasuk peserta didik di sekolah. Inilah kenapa, pendidikan sejarah itu menjadi penting. Pembelajaran sejarah berkontribusi penting bagi penguatan karakter siswa.
 Selanjutnya