RMco.id  Rakyat Merdeka - Aksesibilitas mendapatkan bahan bacaan bukanlah parameter mutlak untuk mengukur tingkat literasi masyarakat. Dampak dari pencapaian literasi adalah ketika masyarakat berhasil menciptakan produk barang atau jasa yang bermanfaat bagi banyak orang, hasil dari pemikiran, inovasi, gagasan, dan ide-ide baru yang diperoleh dari keaktifan membaca. Masyarakat harus diyakinkan bahwa pintu gerbang untuk meningkatkan kualitas manusia adalah dengan membaca. 

Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando saat mengisi webinar dengan tajuk “Membangun Budaya Literasi untuk Kesejahteraan”, Selasa (6/10). “Transfer knowledge, apa pun bentuknya, hanya bisa dicapai lewat baca," terangnya.

Untuk itu, kata dia, perpustakaan harus untuk terus memberikan fasilitas layanan yang memadai bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi dan transfer pengetahuan. Ketika sumber daya manusia sudah andal, kekayaan sumber daya alam akan lebih bisa dioptimalkan pemanfaatannya.

Berita Terkait : Pustakawan Jadi Motor Pengembangan Budaya Baca

Di era sekarang, lanjutnya, media sosial (medsos) menjelma menjadi kekuatan yang luar biasa. Apalagi di masa pandemi ini. Dalam waktu singkat, jutaan followers berhasil direngkuh sekadar untuk menonton tutorial yang sederhana tetapi dikemas dengan menarik. 

Kata Syarif, kekuatan menggaet antusiasme massa lewat medsos secara cepat harus diakui telah mengalahkan kemampuan serupa pada media elektronik yang lebih dulu familiar, seperti televisi dan radio. Ini juga merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi perpustakaan. 

Atas hal itu, Syarif meminta secara khusus agar perpustakaan bersama stakeholder terkait harus memiliki visi yang sama. Perpustakaan harus melakukan langkah-langkah agar tidak kalah dengan medsos. Pertama, perkembangan teknologi harus mampu memudahkan keterjangkauan akses informasi dan pengetahuan yang bisa diperoleh masyarakat. “Ini yang harus dimaksimalkan,” ucapnya. 

Berita Terkait : Anggaran 2021 Disetujui, Komisi X DPR Minta Perpusnas Tingkatkan Kolaborasi Program Strategis

Kedua, komitmen pustakawan atau tenaga pengelola perpustakaan untuk terus memberikan pelayanan yang prima. Ketiga, masyarakat harus diberikan kesadaran untuk meningkatkan kualitas diri. 

"Perpustakaan jangan kalah dengan media sosial. Yakinkan bahwa koleksi pengetahuan yang disediakan baik yang tercetak maupun digital mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Perpustakaan harus jadi sumber bahan bacaan yang bermutu," tambah Syarif. 

Layanan perpustakaan digital yang dimiliki Perpusnas, seperti Indonesia OneSearch (IOS), iPusnas, dan Khastara terus menunjukan grafik peningkatan, terlebih di masa pandemi. Tingginya pemanfaatan layanan digital Perpusnas dibarengi dengan melonjaknya angka keanggotaan Perpusnas. 
 Selanjutnya