Sebelumnya 
"Khastara bahkan secara khusus diapresiasi Kementerian PAN-RB. Mereka meminta kandungan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam ribuan naskah kuno dapat diterjemahkan, dibaca, dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat, terutama yang menjadi koleksi memori ingatan dunia, seperti Babad Diponegoro, dan Cerita Panji," terang Syarif. 

Fokus perhatian Perpusnas tidak sebatas penyediaan aksesibilitas pengetahuan lewat teknologi internet, tetapi juga ketersediaan pengetahuan di daerah 3T (tertinggal, terluar, terpencil), yang keterjangkauan teknologi masih terbatas. Di daerah tersebut kebutuhan koleksi buku fisik masih diperlukan, ditambah dukungan lain seperti armada perpustakaan keliling (mobil/motor). 

Berita Terkait : Sepanjang 12-25 Januari, Perpusnas Tutup Layanan Fisik

Aspek kegemaran membaca menjadi penting karena masuk ke dalam salah satu rencana strategis (Renstra). Hal ini merupakan upaya untuk menaikkan indeks literasi masyarakat. Sehingga pola sinergi yang strategis dengan stakeholder terkait harus terus diperkuat untuk pengembangan perpustakaan.

Anggota Komisi X DPR Putra Nababan, yang menjadi pembicara dalam webinar itu, menyatakan, penyediaan infrastruktur sebagai syarat aksesibilitas teknologi belum merata. “Akan sulit menyiapkan digitalisasi koleksi jika support akses teknologi belum merata, terutama di daerah 3T. Maraknya, disinformasi juga makin menambah persoalan penumbuhan iklim literasi,” ujarnya.

Berita Terkait : Indikator Kinerja Perpustakaan Harus Mengacu Pada Manfaat Bagi Masyarakat

Karena itu, Komisi X DPR mendukung Perpusnas untuk terus merevitalisasi perpustakaan di daerah, terutama daerah 3T, dengan penyediaan akses internet dan pembentukan kualitas sumber daya pengelola perpustakaan yang unggul. Putra menyarankan agar Perpusnas melakukan kolaborasi dengan kementerian/lembaga terkait untuk memudahkan aksesibilitas pengetahuan masyarakat. [USU]