RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam melawan Corona, kita tidak boleh terlalu bergantung pada impor. Kita harus memanfaatkan yang kita punya di dalam negeri. Terlebih, para peneliti kita juga hebat-hebat. Mereka mampu melakukan riset dengan baik, dan menghasilkan obat, vaksin, serta alat-alat yang dibutuhkan dalam melawan Corona.

Demikian pesan yang disampaikan Menristek/Kepala Badan Riset Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro dalam diskusi virtual Rakyat Merdeka, bertajuk “Pandemi Melahirkan Inovasi”. Diskusi yang dipandu Direktur Rakyat Merdeka Kiki Iswara berlangsung santai namun penuh “gizi”. Bambro, sapaan akrab Bambang Brodjonegoro, membeberkan berbagai inovasi yang dilakukan peneliti di dalam negeri terkait Covid-19.

Bambang menjelaskan, inovasi-inovasi itu tercipta melalui pendekatan triple-helix (pemerintah, akademisi, dan pengusaha). Tepatnya, pasca pembentukan Konsorsium Riset Covid-19. "Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator," terangnya.

Berita Terkait : Alhamdulillah, Pasien Corona Yang Sembuh Makin Banyak

Hasilnya, konsorsium ini mampu menciptakan ventilator, alat testing, screening, obat, suplemen, alat penunjang sterilisasi, hand sanitizer, dan vaksin. Hasil-hasil inovasi ini tentunya bisa mengurangi ketergantungan Indonesia ke produk-produk impor.

Sebelumnya, ketergantungan terhadap produk impor sangat tinggi. Sebut saja impor bahan baku obat, yang angkanya mencapai 95 persen. Kemudian, alat kesehatan yang mencapai 94 persen. 

Bambro mencontohkan, untuk alat rapid test, kini Bio Farma telah memproduksi sendiri. Jumlahnya menuju 1 juta unit. Begitu juga alat test Polymerase Chain Reaction (PCR). Pemerintah pun kini tengah fokus ke alat-alat testing. Karena saat ini banyak komplain terhadap PCR. Selain harganya mahal, waktu untuk mendapatkan hasilnya juga tidak sebentar.

Berita Terkait : Tenang, Kunci Pasien Covid-19 Cepat Sembuh

Untuk alat tes, kata Bambro, ada tiga produk baru yang dihasilkan peneliti dalam negeri. Pertama, rapid test generasi 1 dan 2. Produk ini bukan hanya mampu mendeteksi reaktif atau tidak orang yang dites terhadap Covid-19. Tetapi juga memindai antibodi Immunoglobulin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM). 

"Sehingga bisa lebih akurat. IgG dan IgM bisa memberi indikasi karena Covid-19. Meski memang rapid test antibodi bukan screening yang terbaik," terang mantan Kepala Bappenas ini.

Kedua, hasil karya Universitas Gadjah Mada (UGM) yakni GeNose. Alat dengan mesin berbasis Artificial Intelligence (AI) ini dapat mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama napas seseorang. Kata Bambro, ini alat yang paling nyaman. Karena pengetesannya hanya meniup semacam balon, dan membutuhkan waktu 2 menit. Hasilnya langsung diketahui. Meski terbilang simpel, tingkat akurasi mesin ini mencapai 97 persen. Negara seperti Finlandia, Prancis, dan Israel juga menggunakan GeNose. "Di Dubai, ada anjing yang bisa mengendus Covid-19. Bisa mencium bau napas kita dengan VOC tadi. Nah, fungsi anjing itu diubah menjadi mesin," terang Bambro.

Berita Terkait : Hati-hati, Virus Corona Bisa Nyebar Sampai 1,8 M

Ketiga, Reverse Transcription Loop Mediated Isothermal Amplification (RT-Lamp) buatan LIPI. Alat ini mampu membaca ada tidaknya Covid-19 sekitar 1 jam. Cara kerjanya, tetap mengambil cairan, baik di hidung maupun tenggorokan, lalu dimasukkan ke dalam cairan. "Kalau keruh berarti positif. Kalau bening negatif, sehat," jelas pria kelahiran Jakarta, 54 tahun silam ini.

Dia menegaskan, ketiga alat tersebut adalah terobosan besar yang akan diluncurkan. Dengan begitu, upaya screening semakin masif, sehingga dapat memutus mata rantai penularan Covid-19. 
 Selanjutnya