RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi kembali menyampaikan kekecewaan ke publik atas jebloknya kinerja anak buahnya. Kali ini, bahkan Jokowi terlihat dongkol karena merasa telah dikecewakan bertahun-tahun. Duh, para menteri kok tega sih bikin Presiden seperti itu?

Kedongkolan Jokowi itu pecah dalam Rapat Terbatas (Ratas) Kabinet via telekonferensi, pagi kemarin. Yang hadir, antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Jokowi memimpin rapat dari Istana Bogor. Sedangkan para menteri dari kantor masing-masing. Tema Ratas ini: Korporasi Petani dan Nelayan dalam Mewujudkan Transformasi Ekonomi.

Di awal pengantarnya, Jokowi langsung menyentil. Dia bilang, rencana pembentukan korporasi tani dan nelayan ini sudah lama dibicarakan. "Sebetulnya kita sudah sering membicarakan mengenai ini," ucap Jokowi.

Baca Juga : BNPB Minta Kelompok Rentan Dipisah Di Pengungsian Gempa Sulbar

Jokowi mengingatkan, sektor pertanian berhasil menjadi penyumbang tertinggi bagi pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi. Padahal, sektor-sektor yang lain mengalami perlambatan. Di kuartal kedua, sektor pertanian tumbuh positif sebesar 16,24 persen. Jokowi meminta agar pertumbuhan positif ini dijaga dan berdampak signifikan bagi kesejahteraan petani.

Nah, untuk meningkatkan kesejahteraan itu, petani dan nelayan perlu difasilitasi dengan korporasi. "Sekali lagi, sudah sering saya sampaikan, bahwa petani dan nelayan ini perlu didorong untuk berkelompok dalam jumlah yang besar dan berada dalam sebuah korporasi, sehingga memiliki economic scale (skala ekonomi)," tegasnya.

Dengan skala ekonomi yang efisien, Jokowi yakin, akses pembiayaan untuk petani dan nelayan bisa lebih mudah. Termasuk, mengakses informasi, teknologi, dan pemasarannya.

Baca Juga : Akhirnya, Jaringan Listrik Terdampak Gempa Di Mamuju Normal Lagi

Pertanian, imbau Jokowi, jangan cuma fokus pada on farm, tapi juga off farm. Seperti pada sisi pascapanen atau bisnisnya. "Saya melihat implementasi model korporasi petani dan nelayan belum berjalan optimal di lapangan," sentil Jokowi.

Jokowi mengakui, kelompok-kelompok tani dan nelayan sudah ada. Tapi, model bisnisnya belum terbangun. Padahal, ekosistem itu bisa disambungkan dengan korporasi lain, seperti BUMN atau swasta besar. 

Jokowi tidak menargetkan muluk-muluk soal ini. Ia minta dibuat 1 atau 2, untuk model bisnis korporasi petani dan nelayan ini. Ia yakin, petani akan meniru jika sudah ada contoh yang berhasil.

Baca Juga : Banjir Di Kalbar, PLN Berhasil Operasikan Kembali 23 Gardu Terdampak

Kedongkolan Jokowi memuncak ketika mengingat perintahnya beberapa tahun lalu yang belum kunjung terealisasi. Padahal, ia sudah memerintahkan anak buahnya belajar ke Malaysia dan Spanyol untuk meniru model bisnisnya. Dengan mengangkat bahu, Jokowi mengaku bingung kenapa model bisnis tersebut belum bisa direalisasikan di Indonesia. Padahal model bisnis gampang ditiru. "Saya nggak tahu, sampai sekarang model tersebut belum bisa kita buat satu atau dua contohnya," ucap Jokowi.
 Selanjutnya