RMco.id  Rakyat Merdeka - Nggak disangka-sangka, aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja, meledak, kemarin. Aksi yang digelar tanggal 8 bulan 10 ini, bisa dibilang melebihi aksi 212 yang fenomenal itu. Memang, massa yang kumpul di sekitar Thamrin-Sudirman, Jakarta, tidak sampai berjuta-juta, tapi aksi yang diikuti buruh dan mahasiswa ini, melebar dan serempak di 22 kota besar. Suasananya mengerikan dan anarkis. Ada adu jotos, ada bakar-bakaran. Semoga saja tidak sampai ada korban jiwa.

Di Jakarta, massa yang memulai aksinya sejak pukul 12.30, melakukan long march menuju Istana Negara. Langkah mereka terhenti di patung kuda, yang dijaga ratusan personel kepolisian dan kawat berduri. 

Makin siang, makin ramai. Dan, makin panas. Massa pun mulai melempari polisi dengan botol. Lainnya, mencoret-coret bangunan dengan kata-kata hinaan terhadap DPR. 

Baca Juga : Klaster Keluarga DKI Terus Meroket

Tak lama, kericuhan pecah! Massa yang mencoba merangsek ke arah Istana, melempari polisi dengan batu dan molotov, serta menjebol kawat berduri. Polisi terus berusaha menghadang. Air disemprotkan dari water canon. Sayangnya, semprotan itu tak mampu menghalau massa. Polisi pun kemudian menembakkan gas air mata. Barulah massa kocar-kacir. 

Tapi, mereka tak mundur begitu saja. Massa yang berhamburan ke berbagai arah, melakukan perusakan. Salah satu yang jadi sasarannya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Massa melempari bagian tengah gedung hingga kaca-kacanya pecah berserakan. Kendaraan-kendaraan ikut dihancurkan. 

Pos Polisi juga dirusak dan dibakar. Mulai dari Pospol Monas, Sarinah-Thamrin, hingga Tugu Tani. Begitu juga dengan Halte TransJakarta, yang dihancurkan dan dibakar. Mulai dari Harmoni, Tosari, sampai Pasar Senen. Sedikitnya 18 halte jadi korban. 

Baca Juga : PUPR Gandeng BPKP Audit Pekerjaan Venue PON XX Papua

Kobaran api ada di mana-mana. Asap-asap pekat membumbung ke langit Jakarta. Pecahan kaca, batu, kayu, selongsong gas air mata, dan berbagai benda terhampar di jalanan Ibu Kota. 

Suasana mereda ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menemui demonstran di Bundaran HI, beberapa menit sebelum pukul 7 malam. Anies datang bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Pangdam Jaya Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Anies berjanji akan menyampaikan aspirasi para mahasiswa ini, yakni menolak RUU Ciptaker. Massa di Bundaran HI bubar. Tapi, di beberapa titik, yakni Jalan Hasyim Ashari, Pasar Senen, dan Sudirman, massa masih berkumpul dan terlibat bentrok dengan polisi. 

Daerah lain, tak kalah panas. Di Surabaya, pendemo yang memusatkan aksinya di Gedung Negara Grahadi menghancurkan Taman Alun-alun Kota Buaya itu. Tanaman, bunga, lampu-lampu, rambu-rambu lalu lintas, hingga area depan Taman Apsari hancur berantakan. Beberapa perkantoran ditimpuki dan dirusak. Pegawai-pegawainya berhamburan ke luar, histeris. 

Baca Juga : Pilih Milenial Jangan Asal

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tak kalah histeris melihat taman kebanggaan kotanya hancur. Dia sampai nangis kejer. 

Demo di Malang, Mojokerto, dan Lumajang juga ricuh. Di Yogyakarta, massa yang bentrok dengan Polisi di Gedung DPRD, merusak halte TransJogja dan membakar sebuah kafe di Malioboro. Pedagang-pedagang yang ketakutan, bergegas menutup lapak mereka. 
 Selanjutnya