RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyebaran Covid-19 begitu cepat bergerak dan masif. Penyebabnya, pola perjalanan global sangat luas dibanding sepuluh tahun lalu. Hal tersebut diungkap Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, Dwi Agustian.

Dwi menyebut, selain mudah menular, penyebaran Covid-19 didukung pola perjalanan global yang sangat masif dibanding sepuluh tahun lalu. Rata-rata perjalanan penerbangan berlipat-lipat. Sehingga, virus cepat bergerak dari satu orang ke orang lain antar negara.

Berita Terkait : Kasus Positif Naik 4.070, Kasus Suspek Nambah 4.617

"Dua puluh tahun lalu virus ini tidak bisa menimbulkan efek biologis secara cepat," ungkap Dwi dalam talkshow "Titik Balik Penyintas Covid-19" di Media Center Satgas Penanganan Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Jumat (23/10) sore.

Bagaimana cerita para panyintas corona? Dari mana mereka tertular? Motivator Tung Desem Waringin, salah satu penyintas Covid-19 menduga, tertular Covid-19 saat perjalanan di pesawat terbang pada 15 Maret 2020 silam.

Berita Terkait : Rumah Isolasi Mandiri di Kota Depok Siap Digunakan Akhir Bulan Ini

Saat itu, di dalam pesawat, penumpang penuh. Sementara yang pakai masker hanya yang sakit. Tiga hari kemudian, 18 Maret 2020, dia demam hebat pada malam hari. Paginya, demam turun dan normal. Kondisi ini berulang selama beberapa hari. Tung yang sempat kesusahan bernafas, berinisiatif tes darah dan foto thorax.

"Hasilnya, saya 95 persen positif Covid-19. Pada saat itu swab test masih antre panjang dan lama. Tidak seperti sekarang," ungkap Tung, yang mengaku tiga kali ditolak rumah sakit.
 Selanjutnya