RMco.id  Rakyat Merdeka - Rencana pemerintah untuk kembali menyelenggarakan sekolah tatap muka dengan sejumlah syarat pada Januari 2021, menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat.

Ada yang mendukung. Banyak juga yang menentang. Apalagi, hingga saat ini, kurva pandemi masih tak kunjung melandai.

Terkait hal ini, kandidat PhD Bidang Kardiovaskuler dari Fakultas Kedokteran Universitas Kobe, Jepang, Adam Prabata menjelaskan sejumlah risiko yang mungkin muncul, jika sekolah tatap muka kembali dibuka.

Berita Terkait : Ketua Satgas Covid: Hindari Kerumunan, Tolong Jangan Kecewakan Kerja Keras Kami

Menurutnya, anak-anak memiliki risiko yang sama besarnya untuk tertular dan menulari Covid-19, bila dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua.

"Jangan lupakan risiko penularan Covid-19 pada guru dan staf sekolah lainnya. Mereka juga dapat tertular dan menulari Covid-19. Baik dari dan ke siswa, maupun ke sesama guru atau staf," terang Adam via akun Instagramnya, Sabtu (21/11).

"Pencegahan maksimal juga perlu dipikirkan dan dilakukan dengan baik oleh guru dan staf yang bekerja di sekolah, untuk meminimalkan risiko penularan," lanjutnya.

Berita Terkait : Relawan Solid Bantu Pemerintah

Adam juga mengingatkan adanya potensi second wave atau jumlah kasus meningkat drastis, saat pembukaan aktivitas sekolah tatap muka kembali dibuka. Terutama, jika tidak disertai dengan peningkatan kapasitas testing.

"Peningkatan jumlah kasus Covid-19 berisiko terjadi saat pembukaan kembali sekolah, bila tidak disertai dengan peningkatan jumlah tes PCR," jelas Adam, yang aktif memberikan informasi dan pencerahan seputar Covid-19.

Untuk menekan risiko Covid dari kegiatan pembukaan sekolah, Adam menyarankan beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pemeriksaan PCR skala besar pada orang yang bergejala. Kedua, tracing efektif. Ketiga, isolasi pasien positif Covid-19.

Berita Terkait : Satgas Covid Kabupaten Bogor Gelar Rapid Dan Swab Test Di Desa Kuta Dan Sukagalih

"Tindakan mitigasi optimal bisa segera dilakukan, bila ada kasus positif Covid-19 di sekolah," pungkasnya. [HES]