RMco.id  Rakyat Merdeka - Dicopotnya Irjen Nana Sudjana dari kursi Kapolda Metro Jaya membuat peta persaingan menuju kursi Kapolri berubah. Terpentalnya Nana juga membuat kekuatan ‘Geng Solo’ mengendur. 

Geng Solo adalah julukan yang diberikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada sejumlah jenderal polisi yang pernah menjabat Kapolresta Solo di saat Presiden Jokowi menjadi Wali Kota selama dua periode. Dari 2005-2012. 

Nana pernah menjabat Kapolresta Solo pada 2010. Selain Nana, ada Irjen Ahmad Lutfi. Dia pernah jadi Kapolresta Solo pada 2015. Lutfi kini menjabat Kapolda Jateng. Ada pula Komjen Listyo Sigit Prabowo. Listyo pernah jadi Kapolresta Solo pada 2011-2012. Kini dia menjabat Kabareskrim Polri. “Tergusurnya anggota Geng Solo otomatis memperkuat Geng Makassar serta memberi peluang bagi Geng Pejaten,” ujar Neta, kemarin. 

Baca Juga : JK: Kita Jangan Balik Ke Demokrasi Jalanan

Ada satu kelompok lagi yang berpeluang dalam bursa Tribrata-1, yakni kelompok independen. Sementara satu geng lagi, Geng Palembang, dinilai Neta, sudah hilang.

Siapa yang paling berpeluang? Neta menyebut, saat ini belum bisa diprediksi dengan jelas. Sebab, akan ada rotasi para jenderal pekan depan. Akan ada dua posisi jenderal bintang tiga yang kosong, karena pensiun. Yakni Sekretaris Utama (Sestama) Lemhannas dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Dengan demikian, akan ada dua jenderal bintang dua Polri yang akan naik menjadi bintang tiga. Nah, siapapun yang naik, berpeluang untuk masuk bursa calon Kapolri. 

Neta membeberkan, jumlah jenderal bintang tiga Polri saat ini ada 13 orang. Tujuh di antaranya berada di luar institusi kepolisian. Tapi dari 13 itu, hanya beberapa yang bisa ikut bursa. Sisanya, tidak bisa ikut karena faktor angkatan dan lainnya. 

Baca Juga : Musuh Anies Pada Berisik

Penilaian berbeda datang dari Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukmanto. Dia menilai, Nana masih berpeluang masuk bursa calon pengganti Jenderal Idham Azis yang akan pensiun pada Januari 2021. “Pencopotan dia dari Kapolda Metro Jaya bukan menutup pintu Nana sebagai kandidat Kapolri,” ujar Bambang, kemarin. 

Jabatan Koordinator Staf Ahli (Koorsahli) Kapolri yang kini diemban Nana, disebutnya bukan posisi “mati”. Posisi itu masih terbilang strategis, meski dia tak memegang tongkat komando. “Berbeda dengan Kapolda Jabar (Irjen Rudy Sufahriadi) yang di-widyaiswara-kan,” imbuhnya. 

Peluang Nana kini tergantung bagaimana dia memanfaatkan momentum pencopotan dirinya menjadi nilai tambah. Yakni, sebagai Kapolda yang berani mengambil tanggung jawab. Alumni Akpol 1988 juga masih punya kans jika melihat gaya Presiden Jokowi selama ini dalam memilih Kapolri. “Hal itu masih memungkinkan Nana untuk maju,” tandas Bambang. 
 Selanjutnya