RMco.id  Rakyat Merdeka - Satgas Penanganan Covid-19 bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Daerah telah menurunkan lebih dari 5.000 relawan pelacak kontak (tracer), untuk melakukan deteksi awal penularan di 10 kawasan prioritas.

Namun, upaya melakukan pelacakan ternyata tidak mudah. Karena sebagian masyarakat menolak untuk diperiksa.

Hal ini diungkap Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Alexander K Gintings.

Berita Terkait : Ketua Satgas Covid: Jangan Tolak Pelacakan Kontak!!

"Saat ini, tim kami sedang berada di lapangan untuk melakukan penelusuran kontak erat pasien. Mereka kini tengah mengalami persinggungan dengan masyarakat untuk memutus rantai penularan," papar Alex dalam keterangannya, Minggu (22/11).

Alex menegaskan, gerakan kesehatan untuk menanggulangi Covid-19 adalah sebuah gerakan kemasyarakatan non partisan, untuk kemanusiaan, non diskriminatif dan pro terhadap kehidupan.

“Ini yang perlu ditanamkan. Sehingga, masyarakat tidak perlu resisten. Supaya anggota di lapangan juga bisa bekerja dengan aman dan nyaman. Tidak dicurigai," tegas Alex.

Berita Terkait : Jangan Berleha-leha, Kobarkan Terus Semangat Basmi Corona

Ia menambahkan, semua pihak berjuang memutuskan rantai penularan dengan menerapkan protokol Kesehatan. Namun, tetap diperlukan tim pendukung. Yaitu tim pelacak kontak dari Dinas Kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan Satgas Penanganan Covid-19.

"Jadi, tim pelacak kontak adalah sahabat masyarakat yang menolong saya, keluarga, dan sahabat-sahabat semua dari rantai penularan Covid-19,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo telah meminta masyarakat agar tidak menolak pelacakan kontak. Karena semakin cepat diketahui, Covid akan lebih mudah ditangani. Terlebih, mayoritas penderita Covid adalah orang tanpa gejala atau OTG.

Berita Terkait : Protokol Kesehatan Jangan Cuma Imbauan, Keselamatan Rakyat Adalah Hukum Tertinggi

"Jadi, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menolak pelacakan kontak, penanganan kesehatan adalah sebuah kerja kemanusiaan. Tenaga kesehatan hendak memastikan gejala sakit dikenali lebih awal dan demikian juga dengan riwayat kontak pasien. Semakin cepat diketahui, penularan lebih luas bisa dicegah karena memang mayoritas penderita Covid-19 adalah orang tanpa gejala,” tutur Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, di Jakarta, Minggu (22/11).

Menurut Doni, titik paling krusial dalam memperkecil risiko kematian akibat Covid-19, adalah menjaga agar pasien tidak berpindah fase atau kategori sakit. Sedapat mungkin, tetap dengan gejala ringan. Sehingga  lebih mudah disembuhkan.

“Ini adalah prioritas dokter dan tenaga kesehatan sekarang. Apalagi, dalam seminggu terakhir, tingkat penularan cenderung meningkat," tandas Doni. [HES]