RMco.id  Rakyat Merdeka - Dunia mendapat pelajaran berharga dari pandemi Covid-19. Pandemi ini membuktikan bahwa tidak ada satu negara yang siap menghadapi bencana yang diakibatkan oleh kecerdasan mikroba dalam mempertahankan eksistensinya.

Hingga pada akhirnya mampu menjadi sumber masalah dunia yang mengancam keselamatan jiwa manusia dalam jumlah banyak, dan mampu mengubah tatanan kehidupan normal sebelumnya.

Virus Corona merupakan salah satu dari banyaknya potensi ancaman yang pada awalnya bukan menjadi masalah serius, kemudian berubah menjadi Virus Sars Cov-2 yang bertanggung jawab menjadi penyebab terjadinya pandemi.

Berbagai informasi dari belahan dunia, baik melalui forum-forum pertemuan global maupun publikasi ilmiah, banyak melaporkan peningkatan insidensi bakteri kebal antibiotik dalam beberapa dekade terakhir.

Misalnya, kasus methicilin-resistant Staphyloccocus aureus (MRSA), vancomycin-resistant Staphylococcus aureus (VRSA), vancomycin-resistant Enterococcus (VRE), multi-drug resistant Tubercullosis (MDR-TB), extended spectrum beta-lactamase (ESBL), dan multidrug-resistant Acinetobacter baumannii (MRAB). 

Rentetan kasus kekebalan bakteri terhadap antibiotik tersebut membuktikan betapa cerdasnya mikroorganisme dalam usahanya untuk dapat bertahan hidup, melalui berbagai mekanisme mutasi dan perubahan sifat yang begitu kompleks. 

Perkembangan zaman yang begitu cepat seiring mudahnya akses perpindahan orang dan barang secara global saat ini, maka penyebaran agen mikroorganisme infeksius berbahaya termasuk bakteri resisten antimikroba yang ada di suatu wilayah ke wilayah lainnya menjadi tidak terkendali, penularan menjadi tidak kenal batasan geografi.

Alexander Fleming, penemu pertama antibiotik (penicillin) pernah menyampaikan dalam pidato penyerahaan nobel tahun 1945, bahwa akan ada potensi bahaya perubahan sifat bakteri penyebab infeksi yang akan menjadi resisten terhadap penicillin, saat di mana penicillin begitu mudah diperoleh dan digunakan secara berlebihan dan serampangan. 

Berita Terkait : Saatnya Terapkan Karantina Wilayah

Banyak literatur menyebutkan, bahwa penggunaan antibiotik secara masif telah banyak terjadi pada sektor kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional terbukti mempercepat laju perkembangan bakteri resisten, maka dunia akan menghadapi peningkatan munculnya insidensi resistensi antimikroba yang semakin cepat. 

Sementara, investasi untuk penemuan pengobatan antibiotik baru semakin tidak diminati oleh sektor industri farmasi pada hampir 2 dekade terkahir ini. 

Hal ini bisa menjadi alarm bagi masyarakat dunia dalam upaya mempertahankan perlawanan terhadap infeksi bakteri berbahaya yang sering menyebabkan penyakit serius baik di sektor kesehatan manusia maupun kesehatan hewan. 

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2016, menyebutkan bahwa resistensi antimikroba diprediksi akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada tahun 2050.

Jika semua negara tidak peduli untuk mengatasi masalah resistensi antimikroba ini, maka diprediksi tingkat kematian manusia akan mencapai 10 juta jiwa setiap tahunnya, dan kerugian ekonomi dari dampak resistensi juga menjadi beban bagi negara, khususnya negara berkembang. 

Laporan tersebut merupakan ancaman estimasi kerugian yang tidak bisa dipandang sebelah mata, sejajar atau bahkan dapat melebihi kerugian dari pandemi yang saat ini sedang diperangi. 

Bayangkan, jika infeksi yang selama ini dianggap sederhana dan dapat diobati dengan antibiotik yang ada, kemudian berubah menjadi tidak bisa diobati lagi, dan menyebabkan lamanya tindakan medis yang harus dilakukan, kemudian berdampak pada beban biaya pengobatan di unit pelayanan kesehatan.

Jadi, tidak heran jika saat ini, resistensi antimikroba menjadi agenda penting dalam berbagai forum regional dan internasional (ASEAN Summits, G20, G7), dengan harapan isu ini dapat menjadi prioritas pengendalian di tingkat nasional setiap negara.

Baca Juga : Demokrat Tolak Wacana Pilkada Dan Pemilu Serentak

Seluruh negara juga diharapkan berupaya menyusun kerangka kerja pengendalian resistensi antimikroba yang melibatkan banyak sektor dan disiplin di dalamnya. 

Hal ini dikarenakan secara epidemiologi resistensi antimikroba akan sangat terkait dengan sistem kesehatan yang sangat kompleks di dalam ekosistem, baik menyangkut kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Maka dibutuhkan langkah-langkah pendekatan melalui konsep kesehatan terpadu atau one health.

Banyak kajian menyebutkan, faktor sosial ekonomi akan lebih banyak berperan dalam mengendalikan resistensi antibiotik saat ini, dari sisi industri kesehatan, farmasi maupun produksi pangan termasuk sektor peternakan dan pertanian. 

Hal ini bisa lebih mempertimbangkan manfaat ekonomi dibandingkan dengan mempertimbangkan dampak kesehatan yang berkesinambungan bagi masyarakat dan lingkungan.

Kemudian jika dilihat dari sisi individu, kebiasaan untuk memperoleh solusi jangka pendek seperti dengan membeli dan menggunakan antibiotik tanpa pendampingan medis cenderung menjadi pilihan praktis.

Di samping itu, upaya pengawasan dan penegakan aturan masih menjadi masalah klasik, tidak cukup memberikan efek jera dalam pengaturan penyediaan, distribusi, pemanfaatan dan penggunaan dari antibiotik yang secara aturan dikategorikan sebagai obat keras.

Melihat kenyataan yang ada, maka upaya-upaya dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran semua pihak menjadi dasar yang sangat fundamental dalam keberhasilan memperlambat laju perkembangan resisten antibiotik di masyarakat. 

Memang, bukan hal yang mudah untuk dapat menjelaskan ancaman resistensi antibiotik kepada semua pihak. Bahkan, orang yang memiliki pengetahuan medis sekalipun, belum tentu menyadari ancaman ini. 

Baca Juga : Listyo, Muda Tapi `Mateng Di Pohon`

Untuk itu, organisasi internasional termasuk WHO, OIE (Badan Kesehatan Hewan Dunia), dan FAO mengajak seluruh dunia untuk bergerak dalam mempromosikan kesadaran  penggunaan antibiotik secara bijak dan efektif melalui upaya-upaya komunikasi, pendidikan dan pelatihan kepada stakeholders terkait. 

Setiap bulan November digelar perayaan “Pekan Peduli Antimikroba Dunia” atau World Antimicrobial Awareness Week (WAAW) yang ditetapkan mulai tanggal 18 sampai dengan 24 Novermber setiap tahunnya. Tujuannya, mengajak pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kesadaran akan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh resistensi antimikroba.

Selain itu, gelaran pekan peduli antimikroba dunia ini juga dilaksanakan untuk mempromosikan praktik yang baik di bidang yang menjadi perhatian ini, agar laju perkembangan munculnya dan menyebarnya resistensi di seluruh dunia dapat dihambat. 

Sejatinya, bukan hal yang mustahil jika ancaman resistensi antibiotik akan menjadi pandemi selanjutnya yang bergerak pasti secara senyap. 

Maka kini pilihan ada di tangan kita semua, kita harus bersiap menghadapi masa di mana infeksi bakteria sudah tidak dapat ditangani dengan pengobatan antibiotik, bahkan mungkin saja akan terjadi perubahan tatanan kehidupan yang lebih dahsyat dari yang saat ini kita hadapi. 

Untuk itu, mari belajar dari pandemi Covid-19. Saling menyadari pentingnya melestarikan manfaat antibiotik bagi kehidupan kita dan generasi yang akan datang. (Imron Suandy dari Center for Indonesian Veterinary Analitical Studies). [KAL]