RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj jadi bulan-bulanan warganet. Potongan video ceramahnya yang menyebut muslim harus menghormati Dewi Sri, mendapat komentar miring. Sepekan ini, potongan video berdurasi satu menit itu bertebaran di dunia maya.

Salah satu yang mengumbar yakni akun @GollumID di jejaring Twitter. "Said Aqil Orang Islam boleh menghormati Dewi Sri/Dewa Tanaman supaya panennya jadi. Sesat dan menyesatkan. Viralkan Supaya umat tidak ikut tersesat," cuit @GollumID. Video ini di-retweet 986 akun dan disukai 821 akun. Dalam video tersebut, Said Aqil berbicara dalam sebuah forum, mengulas metode dakwah dengan menyinggung pemuliaan dan pemujaan terhadap Dewi Sri.

Dalam mitologi Jawa dan Bali, kisah Dewi Sri terkait dengan asal mula terciptanya tanaman padi. Mitosnya, Dewi Sri adalah Dewi Pertanian, Dewi Padi dan Sawah, serta Dewi Kesuburan. Pemuliaan dan pemujaan terhadap Nyai Pohaci Sanghyang Asri, Dewi Shri atau Sangiang Serri, nama lain Dewi Sri berlangsung sejak masa pra-Hindu dan pra-Islam.

Baca Juga : Naik Tipis, Utang Luar Negeri Tembus Rp 5.963,5 T

Di video itu, Kiai Said mengisi sebuah acara tentang bahaya laten korupsi. Dia duduk di meja pembicara, diapit dua orang. Said mengenakan batik lengan panjang motif corak hitam. "Syukuran Dewi Sri. Kalau mau panen, itu ada dewa yang menjaga tanaman. Perempuan, namanya Dewi Sri. Itu harus diselameti lho, dihormat supaya panennya jadi. Nggak apa-apa, yang penting isinya ceramah agama, shalawatan, baca Al Quran, baca Yasin. Bagus kan? Budayanya lestari, agamanya jadi kuat," kata Said Aqil.

"Kalau tanpa budaya, jangan harap orang Jawa bisa menerima. Orang Jawa orang keras juga sebenarnya. Kalau dengan kekerasan, akan dilawan sampai mati," sambung Said dalam video itu. Menurut dia, mitos budaya sudah melekat.

Warganet menanggapi. "Buat orang Jawa, cerita Dewi Sri bahkan udah didongengin sejak mereka masih kecil sama ortu mereka. Hal-hal begini nggak boleh terus dipelihara. Kultur Islam di Jawa yang masih campur dengan mistik dan khurafat harus dihilangkan," cuit @burakukato. "Menghormati Dewi Sri bahkan melakukan ritualnya. Ini sih syirik," cuit @neuratnaunair. "Panen padi sukses harus menyembah dewi sri? Kamu pikir petani goblok apa. MUI harus klarifikasi nih, ini sesat dan menyesatkan. NU harus adakan MUNASLUB nih. SAS kacau," kicau @helmifelis.

Baca Juga : Pilkada Solo, Banteng Jagokan Gibran-Teguh

Akun @herdiman29 menyindir halus. "Aku menghormat Bu Dewi Sri Puji Rahayu saja karena guru, tidak perlu menghormati sesuatu tahayul yang tidak jelas," cuit dia. Akun @andriefauzy mengajak baik-baik Kiai Said sebagai pemimpin NU untuk kembali ke ajaran pendahulu. "Budaya tunduk pada syariat, ini yang pelan-pelan diajarin Mbah Hasyim, harusnya Pak SAS ikut Mbah Hasyim meneruskan perjuangan NU sesuai khittah," kicaunya.

Akun @Bungsutunggal7 membela Kiai Said. "Dewi Sri itu legenda, manusia utusan yang menyebarkan padi,Gak papa kita menghormatinya asal di jalur keislaman alias ga sesat," kicaunya senada dengan @Eko_Sadoeth. "Setuju dengan Kiai Said, itulah ulama nusantara, yang bisa memecahkan record Islam terbesar di dunia hingga kini. Menyebar Islam dengan ramah dan damai,"cuitnya.

Sementara, Ketua Bidang Hukum PBNU Robikin Emhas mengungkapkan, potongan video ini sengaja disebarluaskan untuk menyudutkan NU. "Bagaimana orang bisa memahami pikiran orang lain, jika pikiran utuhnya dipotong-potong? Apalagi, pemotongan pikiran itu sengaja dilakukan untuk membangun citra buruk. Dipenggal dan diambil sebagian, sehingga terlepas dari konteks pembicaraan," kata Robikin saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Baca Juga : Menaker Ida Fauziyah Raih Gelar Doktor Ilmu Pemerintahan dari IPDN

Menurut Robikin, upaya delegitimasi terhadap NU beserta tokoh-tokohnya sudah sering terjadi. Selain adanya sentimen ideologis, semua itu tidak terlepas dari proses elektoral menjelang Pilpres 2019. Digandengnya KH Ma'ruf Amin yang juga mantan Rais Aam PBNU sebagai Cawapres boleh jadi menjadi salah satu faktornya. Kata dia, target potongan video seperti itu untuk melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap NU. Untungnya, warga NU sudah paham. Sudah mengerti dan sama sekali tidak terpengaruh. [BSH/FAQ]