RMco.id  Rakyat Merdeka - Kasus korupsi lobster-gate yang menyeret Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, ikut berimbas pada keluarga Ketua MPR, Bambang Soesatyo, atau biasa disapa Bamsoet. Suharjito, salah satu tersangkanya, merupakan calon besannya Bamsoet. Meskipun sang besan sudah mendekam di jeruji besi, Bamsoet tidak ingin membatalkan pernikahan putrinya. 

Suharjito merupakan Chairman holding company PT Dua Putera Perkasa (DPP). Perusahaan itu disebut KPK sebagai pemberi suap pada Edhy dalam kasus ekspor benih lobster. Bersama Edhy, Suharjito kini sudah menyandang status tersangka dan mendekam di rutan KPK. 

Sebelum kasus lobster diungkap KPK, Raharditya Bagus Perkasa, anak dari Suharjito, resmi melamar putri Bamsoet, Laras Shintya Puteri. Keduanya, sudah resmi bertunangan dan akan menikah tahun depan. 

Berita Terkait : Komisi IV Sudah Ingatkan Edhy, Ekspor Benur Rawan Masalah

Kabar pertunangan itu sempat diunggah Bamsoet di akun Instagram pribadinya, @bambang.soesatyo, 7 September lalu. Bamsoet juga sempat mengunggah foto bersama Suharjito di akun IG yang memiliki 237 ribu pengikut itu. “Detik-detik Laras ’ditembak’ Adit. Laras adalah salah satu anak perempuan Bamsoet. Sedangkan Adit adalah anak Suharjito,” demikian bunyi caption dalam postingan tersebut. 

Ditanya tanggapannya soal tertangkapnya calon besan, Bamsoet malah balik bertanya. “Nah, kalau orang tuanya (pacarnya anakmu) melakukan sesuatu apa yang kamu rasain?” tanya dia, di Gedung MPR, kemarin “Iya itu yang saya rasain. Ya, tentunya saya prihatin,” ungkap Bamsoet. 

Bamsoet tidak menampik, perasaan yang dialaminya saat ini atas kasus tersebut juga dirasakan oleh putrinya. Namun sebagai orang tua, Bamsoet terus memberikan semangat kepada Laras agar tetap tegar. 

Berita Terkait : Masiku `Yang` Ini Kurang Sakti

Bagaimana dengan rencana pernikahan? Politisi Golkar ini sudah meyakinkan sang putri untuk tetap menjalankan rencana pernikahannya dengan Adit. Rencananya, pernikahan keduanya akan dilakukan pada 2021 mendatang. “Sebagai orangtua, tugas saya sekarang adalah menjaga semangat anak saya,” tuturnya. Meskipun berstatus calon besan, eks Ketua DPR ini menegaskan, dirinya tidak tahu-menahu soal kasus lobster-gate. 

Suharjito ditangkap tim KPK di rumahnya, Rabu (25/11) dini hari, pukul 00.30. Di saat bersamaan, tim lain bergerak ke Bandara Soekarno Hatta. Di Terminal 3 bandara internasional itu, tim menciduk Edhy bersama 7 orang lainnya. Salah satunya, istrinya, Iis. Tak sampai 24 jam, KPK menyandangkan status tersangka kepada 7 orang. Dua di antaranya, Edhy dan Suharjito. 

Suharjito disebut memberikan suap sekitar Rp 2 miliar kepada Edhy. Rinciannya, sebesar Rp 731 juta ditransfer ke rekening PT Aero Citra Kargo, serta 100 ribu dolar Amerika melalui stafsus Edhy, Safri dan Amiril Mukminin. 

Berita Terkait : Isi Rakornas PMKRI, Bamsoet Ajak Generasi Muda Bangun Benteng Ideologi Bangsa

Berdasarkan data kepemilikan, pemegang PT ACK terdiri dari Amiril Mukminin dan Ahmad Bahtiar, yang diduga merupakan nominee dari pihak Edhy dan Yudi Surya Atmaja. Edhy diduga mengatur siasat agar PT Aero Citra Kargo menjadi perusahaan tunggal pengiriman benih lobster. Diduga, upaya monopoli itu dimulai dengan Surat Keputusan Nomor 53/ KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster yang diterbitkan Edhy Menteri Kelautan dan Perikanan, 14 Mei 2020. 

Edhy menunjuk stafsusnya, Andreau Pribadi Misata sebagai Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) dan Safri yang juga stafsusnya sebagai Wakil Ketua Pelaksana Tim Due Diligence. Salah satu tugas dari Tim ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur. 

Pada awal bulan Oktober 2020, Suharjito bertandang ke lantai 16 kantor KKP dan bertemu dengan Safri. Dalam pertemuan itu, diketahui bahwa untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT Aero Citra Kargo dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor. [OKT]