RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejak Firli Bahuri menjabat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Indonesia Corruption Watch (ICW) selalu bersikap berseberangan. Hampir setiap tindak-tanduk Firli dikritik ICW. Mulai dari strategi pemberantasan korupsi, pengumuman tersangka, hingga rencana kenaikan gaji dan pemberian fasilitas mobil dinas.

Tapi, khusus mengenai “serangan” Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan ke KPK, ICW ada di pihak Firli. Kali ini, ICW sejalan dengan Firli.

Sebelumnya, Luhut meminta KPK tak berlebihan dalam memeriksa mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, yang terjerat kasus suap izin ekspor benur lobster. Menteri Kelautan dan Perikanan ad interim itu beralasan, tidak semua orang jelek. Banyak orang baik juga.

Berita Terkait : KPK Sita Seluruh Barang Mewah Belanjaan Edhy Prabowo Di AS

Rupanya, ICW tak sreg dengan ucapan Luhut itu. ICW kemudian membela KPK dan tak ragu menyentil Luhut.

Peneliti ICW Kurnia Ramadhana meminta Luhut menjelaskan maksud pernyataannya ke publik. "Atau mungkin mencontohkan penanganan perkara yang berlebihan itu seperti apa," ujar Kurnia, kemarin.

Dia meminta Luhut menghormati proses hukum yang tengah dilakukan penyidik antirasuah. Menurut Kurnia, pernyataan Luhut bisa dianggap sebagai intervensi proses hukum. Kalau intervensi, ada konsekuensinya. Luhut bisa dijerat dengan pasal perintangan penyidikan yang diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Berita Terkait : Telisik Dugaan Soal Dugaan Penampungan Uang, KPK Cecar Staf Istri Edhy

"Segala upaya intervensi, baik langsung maupun tidak langsung, memiliki konsekuensi hukum tersendiri. Yakni Pasal 21 Undang-Undang Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) terkait dengan obstruction of justice," wanti-wanti Kurnia.

Firli juga sudah menanggapi permintaan Luhut itu. Eks Kapolda Sumatera Selatan itu kembali menegaskan, komisinya tidak pernah melakukan pemeriksaan berlebihan terhadap tersangka atau saksi dalam suatu perkara.

"Kalau diibaratkan obat, pas ukurannya, pas takarannya, pas cara mengadonnya, pas cara menggunakannya. Jadi tidak ada yang berlebihan," tegas Firli.
 Selanjutnya