RMco.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kediaman mantan anggota DPR, Irsal Yunus. Upaya ini untuk mengumpulkan bukti kasus suap penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19.

Rumah Irsal yang digeledah berada di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Komisaris PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (anak usaha Pelindo II) ini juga diketahui memiliki kediaman di Pulogadung, Jakarta Timur.

Bersamaan, penyidik lembaga anti rasuah juga menggeledah rumah di kawasan Jatikramat, Pondok Gede, Bekasi. Diduga, pemilik rumah ini masih terkait dengan Irsal.

Berita Terkait : Kasus Suap Bansos, KPK Geledah Dua Rumah Di Jakarta

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri membenarkan penggeledahan kedua tempat ini. Namun ia tak bersedia menjelaskan keterkaitan Irsal dengan kasus Bansos Covid.

Ia hanya menyampaikan, penggeledahan ini bertujuan menggali bukti-bukti tambahan perkara mantan Menteri Sosial Juliari P Batubara. Ali enggan berkomentar mengenai dugaan keterlibatan perusahaan Irsal dalam proyek penyaluran bansos. “Pokoknya, semua dugaan menyangkut proyek tersebut masih dalam tahap pengembangan,” katanya.

Irsal merupakan anggota DPR periode 2009-2014. Politisi PDIP itu melaju ke Senayan dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jambi. Posisi Irsal kemudian digantikan anaknya, Ihsan Yunus yang terpilih menjadi anggota DPR pada Pemilu 2014 dari Dapil Jambi.

Berita Terkait : Kasus Suap Bansos, KPK Kembali Geledah Dua Kantor Di Jakarta

Sebelumnya, penyidik KPK menggeledah sejumlah kantor perusahaan yang terlibat dalam penyaluran Bansos Covid di wilayah Jabodetabek. Juga memanggil pimpinan perusahaan itu.

Salah satunya, Direktur PT Bumi Pangan Digdaya, Achmad Gamaludin Moeksin alias Agam. Perusahaannya termasuk 10 besar vendor penyedia Bansos bahan kebutuhan pokok atau sembako. Perusahaan ini mendapat kuota jumbo: 811.355 paket.

Secara total, terdapat 14 tahap paket kontrak yang dikerjakan ratusan rekanan Kementerian Sosial. Masing-masing rekanan mendapat kuota dan nilai paket yang berbeda. Mulai dari puluhan juta hingga ratusan miliaran rupiah.
 Selanjutnya